Bank Sentral Dunia Bersiap Naikkan Suku Bunga akibat Lonjakan Harga Minyak

Share

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan tinggi memicu kekhawatiran global terhadap lonjakan inflasi. Kondisi ini membuat bank sentral di berbagai negara diperkirakan mengambil langkah pengetatan kebijakan suku bunga secara serentak pada kuartal II-2026.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, langkah antisipasi ini mengikuti proyeksi terhadap bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, yang diperkirakan bakal bersikap hawkish. Otoritas moneter AS menghadapi risiko tekanan inflasi yang bertahan lebih lama akibat gangguan pasokan energi global.

Biaya energi yang meningkat, salah satunya terlihat dari harga bensin di AS yang mendekati level tertinggi sejak 2022, memperpuruk sentimen konsumen hingga jatuh ke rekor terendah. Jika ketegangan geopolitik terus memicu gangguan pasokan minyak, ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga akan menjadi sangat terbatas.

Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga kini sama besar dengan kemungkinan penurunan. Sikap ini menandakan perubahan haluan dari kebijakan yang sebelumnya cenderung dovish, di tengah proyeksi inflasi AS yang berpotensi naik menjadi 3,8%.

Situasi serupa terjadi di Eropa, di mana inflasi negara-negara utama seperti Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol diprediksi tetap tinggi akibat lonjakan harga energi. Konsensus memproyeksikan inflasi tahunan Mei di Italia naik menjadi 3,3%, Spanyol menjadi 3,4%, dan Prancis menjadi 2,5%.

Di kawasan lain, Afrika Selatan dan Sri Lanka diperkirakan akan menaikkan suku bunga demi meredam dampak inflasi. Sementara di Australia, data inflasi yang masih berada di atas target mempertahankan tekanan terhadap Reserve Bank of Australia untuk menambah suku bunga pada Agustus atau September.

Selain fokus pada kebijakan suku bunga, pelaku pasar global juga mencermati sejumlah rilis data Produk Domestik Buto (PDB) serta agenda penting sepanjang pekan ini.

Senin, 25 Mei 2026

DPR RI menggelar serangkaian Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan jajaran BLU Kementerian Keuangan termasuk DJKN, DJPb, BPPK, DJPPR, serta sejumlah direktur utama badan usaha milik negara seperti PT Geo Dipa Energi dan PT Sarana Multi Infrastruktur. Parlemen juga melaksanakan rapat kerja bersama Menteri Kesehatan RI.

Agenda internasional diisi oleh rilis data PDB dan inflasi Singapura, perdagangan bea cukai Thailand, data penjualan department store Jepang, perdagangan Meksiko, serta PDB Nigeria. Pasar keuangan di AS, Inggris, Hong Kong, dan Korea Selatan tutup memperingati hari libur, sementara ibadah haji tahunan dimulai di Mekkah.

Selasa, 26 Mei 2026

Jepang merilis data pesanan mesin dan leading index, disusul rilis produksi industri Singapura serta Taiwan. Pengumuman kebijakan suku bunga akan dilakukan oleh bank sentral Hungaria dan Sri Lanka, bersamaan dengan pertemuan menteri luar negeri Quad di New Delhi.

Rabu, 27 Mei 2026

China menjadwalkan rilis laba industri, sementara Australia mengumumkan data inflasi dan leading index. Bank sentral Selandia Baru akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan, dan Gubernur The Fed Lisa Cook dijadwalkan berbicara mengenai kecerdasan buatan (AI) serta sistem keuangan.

Kamis, 28 Mei 2026

Fokus pasar tertuju pada rilis indeks PCE AS yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed, bersamaan dengan rilis data PDB kuartalan AS. Bank of Korea diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan di bawah kepemimpinan Gubernur baru Shin Hyun Song, sementara Afrika Selatan akan mengumumkan keputusan suku bunga.

Jumat, 29 Mei 2026

Pekan ini ditutup dengan rilis data inflasi Tokyo, pengangguran, dan produksi industri Jepang. Beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Italia juga mengumumkan data PDB serta inflasi terbaru, sementara Kanada merilis pertumbuhan PDB mereka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author