Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,5 Persen demi Amankan Rupiah

Share

Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas dengan mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh angka 5,5% pada Selasa (9/6/2026). Kebijakan ini diambil di tengah hantaman tekanan besar yang terus menguji ketahanan nilai tukar rupiah sepanjang kuartal bulan ini.

Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, Bank Indonesia mengakui bahwa kemerosotan nilai tukar mata uang Garuda sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei kemarin berjalan lebih dalam daripada yang diproyeksikan semula. Depresiasi ini dipicu oleh perpaduan faktor eksternal global maupun kondisi internal domestik.

Ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah menjadi motor utama yang mengeskalasi ketidakpastian di panggung finansial global. Pada momen yang sama, kebutuhan terhadap dolar AS di pasar domestik melonjak tinggi ketika investor asing justru gencar menarik modal mereka dari pasar keuangan dalam negeri.

Langkah BI mengerek suku bunga mengindikasikan bahwa strategi proteksi terhadap mata uang rupiah kini tengah memasuki fase yang jauh lebih menantang. Meski demikian, situasi saat ini dipastikan berbeda dari memori kelam krisis finansial tahun 1998 atau 2008.

Kondisi fundamental ekonomi nasional dipandang masih kokoh, yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 yang mampu mencetak angka 5,61% sekaligus melampaui prediksi pelaku pasar. Namun, operasi stabilisasi nilai tukar ini harus dibayar dengan ongkos yang terbilang mahal oleh bank sentral.

Sepanjang tahun 2026, cadangan devisa Indonesia sudah terkuras hingga US$11,57 miliar demi memagari kejatuhan rupiah, sehingga menyisakan posisi US$144,9 miliar pada akhir Mei. Kondisi ini turut memicu kenaikan struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menjadi senjata andalan BI dalam menyedot modal asing.

Penyesuaian struktur suku bunga SRBI ini berlaku pada seluruh tenor, mulai dari 6, 9, hingga 12 bulan. Kebijakan tersebut sengaja dirancang untuk mendongkrak daya tarik imbal hasil bagi para pemodal portofolio internasional.

Secara rinci, imbal hasil untuk instrumen tenor 3 bulan merangkak naik dari posisi 6,47% ke angka 6,62%. Selanjutnya, tenor 6 bulan terkerek dari 6,69% menuju 6,87%, sedangkan tenor 12 bulan mengalami lonjakan signifikan dari posisi 6,94% menjadi 7,24%.

Walau beban imbal hasil membengkak, instrumen ini terpantau masih dibanjiri minat tinggi dari para pemodal yang ditandai oleh lonjakan masif pada volume transaksi harian. Pada SRBI tenor 12 bulan misalnya, nilai perdagangan harian melesat tajam dari Rp405 miliar menjadi hampir menyentuh Rp7 triliun dalam satu hari saja.

"Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain," sebut Direktur Executif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Selasa (9/6/2026).

Sesaat pasca-pengumuman kenaikan suku bunga acuan oleh BI, mata uang rupiah sempat merespons positif dengan menguat ke level Rp18.046/US$ pada pukul 13:17 WIB setelah sebelumnya berada di posisi Rp11:52 WIB. Namun, pergerakan kembali bergerak volatil hingga melemah ke posisi Rp18.102/US$ pada pukul 13:51 WIB.

Sejumlah pengamat ekonomi memproyeksikan bahwa pusaran ketidakpastian dari sektor global dan domestik belum akan mereda dalam waktu dekat. Situasi dinamis ini dinilai membuka ruang bagi bank sentral untuk kembali mengerek BI Rate pada periode berikutnya.

Faisal Rachman, Ekonom Bank Permata, memberikan estimasi bahwa BI berpotensi menaikkan kembali suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 5,75% pada kuartal III-2026.

"Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas markoekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.

Proyeksi yang jauh lebih agresif datang dari Lionel Priyadi selaku Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas. Ia memprediksi bank sentral tidak akan menunggu lama untuk mengeksekusi kebijakan pengetatan moneter berikutnya.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan kembali mengumumkan kenaikan suku bunga pada 18 Juni mendatang sebesar 50 basis poin (bps), sehingga BI Rate naik menjadi 6%," sebut Lionel.

Dalam proyeksinya, Faisal menilai mata uang domestik masih harus melewati fase berat dalam jangka pendek hingga menengah dengan potensi koreksi yang cukup dalam.

"Dengan nilai tukar berpotensi melemah ke kisaran Rp18.30018.500/US$ pada titik terendahnya," sebut Faisal.

Di sisi lain, Gary Tan dari Allspring Global Investment bersama Yuxuan Tang dari JPMorgan Private Bank memprediksi ada peluang sebesar 45% bagi rupiah untuk menyentuh level Rp19.000/US$ pada Desember nanti. Bahkan, probabilitas rupiah melemah hingga ke Rp20.000/US$ dalam kurun setahun ke depan berada di angka 27%.

Kendati demikian, nada optimistis disuarakan oleh Jeff Ng, Kepala Strategi Makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Ia melihat rupiah punya momentum untuk menemukan level penopang kuat pada kisaran Rp18.200/US$ berkat intervensi suku bunga di luar jadwal rutin (off-cycle).

Senada dengan pandangan tersebut, Faisal memperkirakan posisi nilai tukar rupiah di penghujung tahun 2026 akan jauh lebih terkendali pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.200/US$, walaupun riak volatilitas jangka pendek tetap harus diwaspadai.

Faisal menambahkan bahwa kerentanan dari sisi domestik masih sangat pekat. Risiko utama yang membayangi meliputi efek rambatan kenaikan harga energi global terhadap tingkat inflasi, kesehatan postur fiskal, serta keseimbangan neraca eksternal.

Sektor eksternal Indonesia berisiko memikul beban berat akibat pembengkakan biaya impor untuk komoditas energi serta bahan baku pabrikan. Kontras dengan itu, laju ekspor diprediksi tertahan akibat tren perlambatan ekonomi dunia.

"Akibatnya, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar dan menambah tekanan terhadap rupiah," sebut Faisal.

Tekanan pada rupiah ini berjalan beriringan dengan menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia yang tersisa US$0,09 miliar pada April. Angka ini merosot dari posisi US$0,2 miliar pada April tahun lalu sekaligus meleset jauh dari target pasar sebesar US$1,500 miliar.

Torehan ini menjadi catatan surplus paling mini sejak Indonesia sempat menderita defisit perdagangan pada April 2020 silam, sekaligus menjadi alarm keras bagi ketahanan sektor eksternal nasional.

Kondisi ini ironis mengingat performa ekspor sebenarnya sempat menunjukkan sinyal positif dengan pertumbuhan 21,98% secara tahunan, membalikkan keadaan dari kontraksi 3,1% pada bulan Maret berkat lonjakan ekspor nonmigas sebesar 23,36%.

Namun, lonjakan performa ekspor tersebut habis tergerus oleh laju impor yang melesat lebih tinggi di angka 22,49%. Pembengkakan ini didominasi oleh impor sektor migas yang melonjak drastis hingga 85,52% serta kenaikan impor nonmigas sebesar 14,11%.

Tingginya angka impor ini merefleksikan besarnya ketergantungan energi nasional serta taktik para pelaku usaha yang mempercepat pengamanan pasokan bahan baku di tengah tren pelemahan rupiah. Meski demikian, Indonesia diproyeksikan tetap mampu mengamankan surplus perdagangan di sepanjang tahun 2026 walau dengan nominal yang menyusut drastis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author