Bambang Soesatyo Apresiasi Mahasiswi UPH Juara Pilmapres 2026
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo memberikan apresiasi tinggi kepada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) Tiffney Tyara Setyoko yang menjuarai Program Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2026 pada Senin (10/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kemenangan mahasiswi angkatan 2023 tersebut menjadi bukti meratanya kualitas pendidikan nasional serta kuatnya kapasitas perguruan tinggi swasta dalam mencetak inovator unggul. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sendiri telah memperluas jangkauan kompetisi dengan menghadirkan kategori khusus bagi mahasiswa disabilitas.
Pencapaian Tiffney dinilai membuktikan keberanian berinovasi mahasiswa Indonesia yang sanggup bersaing di tingkat nasional. Bambang Soesatyo menilai kapasitas sumber daya manusia hendaknya diukur dari dampak dan karya nyata bagi masyarakat, bukan dari asal perguruan tingginya.
"Prestasi Tiffney Tyara Setyoko patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Ia telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, memiliki kapasitas akademik, daya pikir kritis, kemampuan riset, kreativitas, serta keberanian berinovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ini sekaligus menjadi pesan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak boleh diukur semata dari asal perguruan tingginya, melainkan dari karya, kompetensi, integritas, dan dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat," ujar Bamsoet, Bambang Soesatyo.
Tiffney sebelumnya memenangi seleksi Pilmapres Tingkat Wilayah LLDIKTI III pada akhir April. Keberhasilannya melaju ke tingkat nasional diraih setelah menyisihkan ratusan peserta seleksi dari 17 wilayah LLDIKTI hingga masuk dalam jajaran 19 finalis.
"Yang membuat prestasi ini semakin penting adalah proses panjang yang dilalui Tiffney. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional dan akhirnya tersaring menjadi 19 finalis. Artinya, untuk menjadi juara diperlukan kombinasi antara prestasi akademik, kemampuan berpikir, gagasan yang relevan, komunikasi yang kuat, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi persoalan nyata. Tiffney berhasil memenuhi seluruh tantangan tersebut," kata Bamsoet, Bambang Soesatyo.
Dalam ajang tersebut, Tiffney mengajukan inovasi Smart Febrile Patch yang merupakan sensor pemantau non-invasif berbasis keringat. Alat ini dirancang untuk skrining awal tingkat keparahan penyakit infeksi bergejala demam guna memudahkan masyarakat mengambil keputusan medis tepat waktu.
"Smart Febrile Patch memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk sebuah inovasi. Teknologi kesehatan semestinya diarahkan untuk membuat masyarakat lebih cepat mengenali kondisi tubuhnya dan mengambil keputusan yang tepat. Jika gagasan ini kelak dapat dikembangkan melalui penelitian dan uji klinis yang memadai, manfaatnya berpotensi besar, terutama dalam mendukung skrining awal dan membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan langkah pemeriksaan maupun penanganan berikutnya," jelas Bamsoet, Bambang Soesatyo.
Gagasan inovasi tersebut selaras dengan upaya penanganan krisis resistensi antibiotik global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023 menunjukkan satu dari enam kasus infeksi bakteri telah resisten obat, dengan lonjakan tren lebih dari 40 persen pada kombinasi patogen-antibiotik sepanjang 2018–2023.
"Ketika diagnosis terlambat atau informasi awal mengenai kondisi pasien terbatas, ada risiko masyarakat melakukan pengobatan sendiri atau menggunakan antibiotik secara tidak tepat. Karena itu, inovasi diagnostik dan skrining dini harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional. WHO sendiri menempatkan pengembangan tes cepat di titik layanan untuk membedakan infeksi bakteri dan virus sebagai salah satu prioritas dalam menghadapi resistensi antimikroba," kata Bamsoet, Bambang Soesatyo.
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Kesehatan RI bersama WHO telah menjalankan survei nasional di berbagai rumah sakit dan laboratorium di belasan provinsi untuk memperkuat pengawasan resistensi antimikroba secara menyeluruh.
"Prestasi Tiffney harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengembangkan ide sejak di bangku kuliah, sementara perguruan tinggi, pemerintah, rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian harus membangun jembatan agar gagasan tersebut dapat bergerak dari ruang kompetisi menuju laboratorium, uji lapangan, uji klinis, hingga apabila terbukti aman dan efektif dapat diimplementasikan secara luas," pungkas Bamsoet, Bambang Soesatyo.