Ayat Al Quran dan Cara Mengenalkan Makna Maulid Nabi ke Anak

Share

Momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sarana efektif bagi orang tua untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah sejak dini. Pengenalan sosok nabi dapat disampaikan melalui pendekatan bahasa yang sederhana serta mengaitkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari anak.

Dilansir dari HaiBunda, pemahaman mengenai figur Nabi Muhammad SAW juga dapat didasarkan pada landasan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis. Langkah ini membiasakan anak untuk rutin bersalawat serta memahami alasan umat Islam mengagungkan beliau.

Terdapat beberapa dalil Al-Qur'an serta hadis yang dapat menjadi rujukan dalam menjelaskan keteladanan Rasulullah kepada anak-anak.

1. Surah Al-Anbiya Ayat 112

Ayat ini menegaskan ketetapan Allah SWT serta tempat memohon pertolongan:

قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

Qāla rabbiḥkum bil-ḥaqq, wa rabbunar-raḥmānul-musta'ānu 'alā mā taṣifụn

Artinya: "Dia (Muhammad) berkata, 'Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.'"

2. Surah Yunus Ayat 58

Anjuran untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT tertuang dalam ayat ini:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma'ụn

Artinya: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."

3. Surah Al-Hajj Ayat 32

Penjelasan mengenai pentingnya mengagungkan syiar-syiar Allah SWT:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

Zālika wa may yu'aẓẓim sya'ā`irallāhi fa innahā min taqwal-qulụb

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dalam ketakwaan hati."

4. Surah Ali Imran Ayat 164

Ayat ini menerangkan karunia besar berupa pengutusan Rasulullah di tengah umat:

ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Laqad mannallāhu 'alal-mu`minīna iż ba'aṡa fīhim rasụlam min anfusihim yatlụ 'alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu'allimu humul-kitāba wal-ḥikmah, wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn

Artinya: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

5. Hadis Riwayat Muslim

Anjuran memelopori perbuatan baik dalam Islam dijelaskan dalam riwayat berikut:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: "Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya itu, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya. tanpa berkurang sedikitpun pahala yang mereka dapatkan," HR. Muslim.

Hadis tersebut memberi ruang bagi para ulama untuk melahirkan inovasi kebaikan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, Atsar, maupun Ijma. Peringatan Maulid Nabi dipandang sebagai tradisi baik untuk memupuk pahala.

Sejarah Ringkas Peringatan Maulid Nabi

Secara etimologi, kata maulid bermakna kelahiran. Peringatan ini ditujukan untuk mempelajari kisah perjuangan dan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW setelah beliau menerima wahyu di Makkah.

Berdasarkan buku Pro dan Kontra Maulid Nabi karya AM Waskito, terdapat tiga catatan sejarah utama terkait perayaan Maulid Nabi:

Pertama, perayaan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir pada kurun 362-567 Hijriyah di bawah kepemimpinan Abu Tamim. Perayaan ini menjadi salah satu bentuk awal peringatan secara sejarah.

Kedua, perayaan kalangan Ahlus Sunnah yang dipelopori Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Beliau mengundang ulama, ahli ilmu, dan rakyat untuk bersedekah serta menyantuni fakir miskin.

Penjelasan Imam Jalaluddin As-Suyuthi menegaskan peran Muzhaffar Kukabri:

"Orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa'id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami Al Muzhaffari di lereng Gunung Qasiyun."

Ketiga, perayaan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dari Dinasti Ayyub untuk mengobarkan semangat perjuangan umat Islam saat menghadapi Perang Salib.

Manfaat Mengajarkan Makna Maulid kepada Anak

Penyampaian nilai-nilai Maulid Nabi membawakan beragam manfaat positif bagi tumbuh kembang karakter anak di rumah maupun lingkungan sekolah.

Anak dapat memahami sosok Rasulullah sebagai pemandu hidup melalui cerita tentang kejujuran, kesabaran, dan sifat penyayang beliau. Hal ini mempermudah proses pembentukan karakter positif pada anak.

Selain itu, anak didorong untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW sendiri memuliakan hari lahirnya dengan berpuasa.

Sebagaimana diriwayatkan Abu Qatadah:

"Rasulullah ditanya tentang puasanya di hari senin?" dan beliau Menjawab: "Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu pula Allah menurunkan wahyu kepadaku."

Umat Islam merayakan momen tersebut dengan berpuasa, membagikan makanan, serta memperbanyak selawat. Pembiasaan ini melatih anak agar kehadirannya selalu membawakan kebaikan bagi sesama, seperti merawat lingkungan dan membantu sesama yang membutuhkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author