Aturan Baru Inggris Membuat Pelajar Tertahan Enam Minggu di Italia
Seorang pelajar asal Inggris tidak dapat kembali ke negaranya selama enam pekan setelah mengunjungi rumah neneknya di Italia. Kebijakan baru dari Pemerintah Inggris memaksa remaja berusia 15 tahun tersebut tertahan di Roma, seperti dilansir dari Detik Travel.
Aturan yang dirilis oleh Home Office sejak Februari itu mewajibkan warga berkewarganegaraan ganda untuk menunjukkan paspor Inggris saat hendak memasuki wilayah negaranya. Kejadian yang menimpa pelajar tersebut berlangsung pada bulan April lalu.
Merujuk pada laporan The Guardian, regulasi ini mengharuskan warga Inggris dengan status kewarganegaraan ganda membawa paspor Inggris yang berlaku, paspor kedaluwarsa, atau certificate of entitlement. Apabila dokumen tersebut tidak terpenuhi, pihak maskapai, kereta, maupun feri berhak menolak penumpang.
Rowan Somerville, ayah dari pelajar tersebut, mengecam keras Home Office dan Kementerian Luar Negeri Inggris (FCDO) karena dianggap gagal memberikan bantuan. Dia mengaku keluarganya dibuat kebingungan lantaran harus berkoordinasi dari satu instansi ke instansi lain.
"Kedutaan Besar, Home Office, dan Kementerian Luar Negeri saling melempar tanggung jawab kepada kami," kata Somerville.
Menurutnya, penerapan kebijakan baru tersebut telah menimbulkan kerugian bagi banyak orang.
"Mereka sedang mempermainkan hidup orang lain, termasuk pendidikan seorang anak. Ini sangat memuakkan," kata dia.
Somerville menambahkan bahwa putrinya tidak bisa mendapatkan paspor darurat karena belum pernah memiliki paspor Inggris sebelumnya. Imbasnya, remaja tersebut terpaksa absen dari kegiatan sekolah selama enam minggu.
Pihak sekolah bahkan sempat mengirimkan surat resmi kepada pemerintah karena mengkhawatirkan lamanya waktu absen siswi tersebut. Persoalan keluarga Somerville pun tidak langsung selesai setelah sang anak berhasil pulang ke Inggris.
Mereka masih harus menunggu sekitar tiga bulan untuk proses penerbitan paspor Inggris. Padahal, informasi di situs resmi Pemerintah Inggris menyatakan bahwa prosedur tersebut umumnya hanya memakan waktu tiga minggu.
Somerville menggambarkan seluruh proses pemulangan ini sebagai sebuah mimpi buruk birokrasi. Ia bahkan sempat dihubungi petugas yang menyatakan tidak bisa lagi berkomunikasi dengannya karena sang anak telah menginjak usia 16 tahun.
"Saya sudah berbicara dengan 14 orang berbeda di kantor mereka. Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka justru menelepon untuk memberi tahu bahwa mereka tidak bisa berbicara dengan saya. Sulit dipercaya," ujarnya.
Kepulangan remaja tersebut akhirnya terwujud setelah mendapatkan bantuan dari parlemen Inggris. Joe Powell, anggota parlemen setempat, mendesak Home Office hingga akhirnya FCDO bersedia menerbitkan dokumen perjalanan darurat.
"Meski memiliki salah satu orang tua berkewarganegaraan Inggris, memegang dua paspor yang masih berlaku, dan sudah bersekolah di Inggris sejak taman kanak-kanak, perubahan aturan Home Office membuatnya terjebak di Roma dan kehilangan enam minggu masa sekolah," jelas Powell.
Powell menilai kasus ini bukan yang pertama kali terjadi dan menjadi persoalan serius, terutama terkait efektivitas sosialisasi kebijakan baru tersebut.
"Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang bagaimana pemerintah menyosialisasikan perubahan kebijakan dan membantu mereka yang terdampak," kata dia.
Merespons situasi ini, Home Office mengonfirmasi bahwa remaja tersebut telah mendapatkan dokumen perjalanan darurat pada Mei. Pihak otoritas menyatakan paspor baru diterbitkan delapan hari setelah seluruh dokumen persyaratan dipenuhi.
Pemerintah Inggris kembali menegaskan bahwa seluruh warga negara Inggris berkewarganegaraan ganda wajib menunjukkan dokumen resmi saat bepergian ke Inggris. Tanpa dokumen itu, maskapai tidak dapat memverifikasi status penumpang sehingga berpotensi membatalkan penerbangan mereka.