Hasan Basri Ungkap Asal-usul Nama Kelurahan Gondrong di Tangerang

Share

Nama Kelurahan Gondrong di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, memiliki sejarah unik yang berasal dari kisah seorang pria berambut panjang yang sering disapa warga sekitar pada masa lalu, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Selasa (4/8/2026).

Ketua RT 02 RW 02 Gondrong, Hasan Basri, menjelaskan bahwa penamaan kawasan tersebut bermula dari kebiasaan warga setempat yang menyapa pria berambut panjang saat melintas di wilayah mereka.

"Memang kalau kita dengar rada ada aneh. Ya kalau gondrong itu kan rambut. Rambut dari orang laki-laki.

Jadi Gondrong ini adalah merupakan sosok dari seorang laki-laki yang sering mondar-mandir, ngalor-ngetan, ngidul-ngulon. Jadi banyak yang menyapa, 'Pak Gondrong ini, mau ke mana Pak Gondrong ya?', 'Saya mau ke Utan Kenanga', 'Mau ke mana Pak Gondrong?', 'Saya mau ke Udik,', 'Mau ke mana Pak Gondrong?', 'Saya mau ke Petir', 'Mau ke mana Pak Gondrong?', 'Saya mau ke seberang'." ungkap Hasan.

Sikap ramah dan kebiasaan pria tersebut membuat sosoknya begitu melekat dalam ingatan masyarakat kawasan tersebut hingga menjadi kenangan kolektif warga setempat.

"Betul, membekas seperti itu. Nah, Pak Gondrong itu orang, orang baik, kita tidak tahu. Pokoknya dia sering hilir mudik seperti itu. Sering hilir mudik, selalu disapa sama ya penduduk yang dia lewati kalau ketemu," katanya.

Interaksi harian dengan pria itu juga memengaruhi penamaan beberapa area di dalam kawasan kelurahan, seperti Gondrong Udik dan Gondrong Seberang.

"'Mau ke seberang.' Nah jadilah Gondrong Seberang. 'Mau ke mana Pak Gondrong?' 'Mau ke Utan Kenanga.' Jadilah Gondrong Utan Kenanga. 'Mau ke mana Pak Gondrong?'

Barangkali dia dari arah hilir, dari arah Utara. 'Mau ke Udik.' Berarti dia ajak Gondrong Udik," jelasnya.

Keberadaan nama kawasan ini tercatat telah eksis sejak masa pemerintah kolonial Belanda, yang dibuktikan melalui dokumen pemetaan wilayah abad ke-19.

"Iya (dari abad ke-19), saya menurut namanya peta yang pernah saya lihat itu sudah ada. Iya, sudah ada," cerita Hasan.

Ketersediaan data pada peta kolonial tersebut semakin menguatkan keyakinan warga bahwa narasi sosok pria gondrong merupakan asal-usul utama, berbeda dari versi legenda Mat Item yang baru berkembang belakangan.

"Mat Item itu kan setelah merdeka. Setelah merdeka, baru datang kemari," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author