AS Klaim Kendali Selat Hormuz Saat Konflik Iran Berlanjut
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukannya memegang kendali penuh atas Selat Hormuz pada Selasa (11/8), di tengah langkah Iran yang tetap menutup jalur pelayaran strategis tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Eskalasi ketegangan di jalur pelayaran kawasan Teluk terus meningkat seiring penutupan selat oleh Iran. Teheran menetapkan syarat agar Washington menghentikan blokade pelabuhan dan mencabut sanksi sebelum membuka kembali akses navigasi.
Trump menegaskan posisi militer negaranya di perairan internasional tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media.
"Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Kami menguasainya; tidak ada pihak lain, hanya kami," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump menuding pihak Iran tidak menyampaikan hal yang sebenarnya terkait situasi keamanan di wilayah perairan tersebut.
"Saya adalah orang terakhir yang mempercayai Iran. Mereka terus-menerus berbohong kepada saya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Konflik juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik ke kapal komersial Yaman. Otoritas setempat mengonfirmasi enam orang tewas, terdiri dari empat awak kapal dan dua anggota pasukan National Resistance Forces.
Juru bicara Houthi menuding Arab Saudi memanfaatkan situasi untuk memperketat blokade darat dan udara yang berlangsung sejak 2015.
"Setiap penyelesaian harus mencakup pencabutan blokade," kata Mohammed Abdul-Salam, Juru Bicar sekaligus Kepala Perunding Houthi.
Di Teluk Oman, Komando Pusat AS melumpuhkan kapal M/V Vela Nova berbendera Panama menggunakan rudal helikopter ke ruang mesin karena berusaha menerobos blokade pelabuhan Iran. Militer AS tercatat telah mengalihkan 55 kapal komersial dan melumpuhkan tiga kapal yang melanggar instruksi.
Laporan UK Maritime Trade Operations mencatat aktivitas Garda Revolusi Islam Iran terus mengganggu perairan, yang berdampak pada penghentian arus lalu lintas distribusi minyak dunia dan mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 89,46 dolar AS per barel pada Rabu (12/8).
"Aksi-aksi ini terus menunjukkan niat Iran untuk mempertahankan kehadiran di sepanjang jalur transit utama serta mempertahankan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas," kata UKMTO, Lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Analis pasar menilai ketidakpastian negosiasi membuat potensi lonjakan harga energi global tetap tinggi.
"Kurangnya berita atau kemajuan substansial dalam pembicaraan, dengan Iran mempertegas komitmennya untuk mengendalikan Selat Hormuz, membuat risiko harga minyak tetap condong ke atas," kata Kyle Rodda, Analis Pasar Keuangan Senior di Capital.com.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi menemui Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran pada Selasa untuk mendorong penerapan kesepakatan damai sementara yang diprakarsai pada Juni lalu.