AS Ancam Serang Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran di Kolang Gaz La

Share

Komando militer Amerika Serikat mengancam akan segera menggempur fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Gunung Kolang Gaz La, kawasan Natanz, setelah menggelar serangan udara selama 11 malam berturut-turut pada Selasa, 21 Juli 2026. Serangan meluas ini bertujuan melemahkan kemampuan militer Tehran di Selat Hormuz.

Eskalasi militer ini berisiko memicu perang terbuka secara menyeluruh di wilayah Timur Tengah. Komando militer Khatam Al-Anbiya dari Iran menegaskan bahwa setiap agresi terhadap situs nuklir akan dibalas dengan serangan dahsyat ke seluruh aset serta sekutu AS.

Fasilitas di Gunung Kolang Gaz La atau Pickaxe Mountain ini dibangun sejak 2020 dan tertanam sekitar 100 meter di bawah tanah. Lokasi ini diduga menjadi tempat penyimpanan uranium terayaan dan perakitan mesin sentrifugal canggih milik Iran.

Ancaman dari Washington dilontarkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat saat berbicara kepada awak media di Gedung Putih.

"Kita kemungkinan besar akan menghantam area itu dalam waktu dekat. Dan tidak ada satu hal pun yang dapat mereka lakukan untuk mencegahnya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia menegaskan pengerahan kekuatan militer tersebut tidak akan berhenti dalam waktu dekat seiring memanasnya situasi kawasan.

"Kita akan menghantam area tersebut segera, dan dengan sangat keras," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim kerugian materiil yang dialami pihak lawan akibat rentetan bombardment membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

"Jika kita pergi sekarang, Iran butuh 20 hingga 25 tahun untuk membangunnya kembali," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ancaman serupa pernah ia sampaikan sebelumnya saat diwawancarai dalam program radio nasional.

"Kami mengawasi [Pickaxe Mountain] dengan cermat. Kami tidak melihat adanya aktivitas di sana. Situasi nuklir mereka tidak berjalan baik.

Setiap kali kami mendengarnya, kami memusnahkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya. Namun kami mungkin akan memberi Pickaxe serangan dalam waktu dekat," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemerintah Iran menolak keras tuduhan tersebut dan menilai retorika militer Washington hanya bentuk provokasi tanpa dasar hukum internasional.

"Fokus obsesif Washington terhadap Kolang Kouh, di mana tidak ada aktivitas nuklir yang berlangsung, tidak lebih dari dalih yang dibuat-buat untuk agresi, penghancuran, dan sabotase," kata Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Sementara itu, pihak keamanan internal Iran juga telah membantah laporan mengenai pemindahan material nuklir ke situs bawah tanah tersebut.

"Kami tidak memilikinya dalam catatan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pengamat pertahanan menilai keberadaan fasilitas bawah tanah berbenteng beton ini sulit dihancurkan sepenuhnya hanya melalui serangan udara biasa. Lembaga kajian Institute for Science and International Security (ISIS) mencatat titik lemah situs tersebut berada pada sistem ventilasi dan pasokan energi eksternal.

"Bila hal seperti itu terjadi, kami akan membereskannya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Mengenai situasi di Lebanon, pemerintah AS juga menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan politik dan keamanan.

"Ini mungkin tempat yang berbahaya dalam banyak hal. Namun mereka mencintai negaranya… dan kami akan membantunya. Kami akan sangat membantunya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pakar senjata nuklir David Albright menilai ukuran Gunung Kolang Gaz La sangat memungkinkan untuk menampung pabrik pengayaan sentrifugal dan aktivitas pembuat senjata. Konflik militer ini terus berlanjut tanpa kepastian penghentian tembak-menembak dari kedua belah pihak.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author