AS Alihkan Prioritas Perang Iran ke Penurunan Harga Bahan Bakar
Pemerintah Amerika Serikat mengubah prioritas utamanya dalam konflik dengan Iran dari penanganan program nuklir menjadi upaya menekan harga bahan bakar bagi konsumen domestik, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Jumat (14/8/2026).
Perubahan fokus ini menempatkan stabilitas harga energi dan pemulihan arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz di atas isu kepemilikan senjata nuklir Teheran. Jalur perairan strategis tersebut mengalami gangguan signifikan akibat keterlibatan militer AS dan Israel sejak akhir Februari.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan pergeseran prioritas kebijakan luar negeri tersebut dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
"Saya mengetahui bahwa harga minyak turun hari ini dan jauh lebih rendah dibandingkan saat mencapai puncaknya di awal konflik," kata JD Vance, Wakil Presiden AS.
Vance menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga keterjangkauan harga energi nasional sebelum menangani ancaman nuklir Iran.
"Itu menjadi tujuan nomor satu — menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika di seluruh penjuru negara kita," kata JD Vance, Wakil Presiden AS.
Penegasan tersebut sekaligus mengonfirmasi posisi ancaman nuklir dalam agenda strategis Washington saat ini.
"Kemudian, tentu saja, tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," kata JD Vance, Wakil Presiden AS.
Langkah Teheran menutup Selat Hormuz merupakan balasan atas serangan militer Washington, yang memberikan posisi tawar kuat bagi Iran di tengah kemerosotan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump serta kekhawatiran Partai Republik menjelang pemilu sela November. Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa sanksi ekonomi baru akan segera dijatuhkan untuk melemahkan posisi Iran.