Anak Kembar Identik Stephanie dan Sammie Buat Buah Hati Bingung
Memiliki rupa yang sangat menyerupai satu sama lain dapat menghadirkan kisah menggelitik dalam kehidupan sehari-hari. Kemiripan fisik yang ekstrem bahkan sanggup membuat anggota keluarga inti merasa kesulitan untuk membedakan mereka.
Pengalaman unik ini dialami oleh pasangan saudari kembar identik bernama Stephanie Buckman dan Sammie Nowakowski. Seperti dilansir dari HaiBunda, kesamaan visual yang mereka miliki kerap memicu kebingungan bagi anak-anak mereka sendiri dalam mengenali sang ibu.
Cerita mengenai kebersamaan mereka menjadi perhatian luas netizen di platform TikTok setelah sebuah video pendek diunggah. Tayangan tersebut merekam momen menggelitik saat putra Buckman yang baru menginjak usia 4 tahun, Noah, terlihat bimbang mengidentifikasi ibunya.
Melalui rekaman video tersebut, Noah tampak melayangkan pertanyaan langsung kepada Nowakowski untuk memastikan apakah wanita di hadapannya adalah sang bunda. Kejadian menggelitik semacam ini rupanya sudah menjadi bagian dari keseharian mereka sejak anak-anak masih bayi.
Kemiripan yang luar biasa ini diperkuat oleh rutinitas harian yang mereka jalani secara bersama-sama. Buckman dan Nowakowski tidak hanya sering menghabiskan waktu luang berdua, tetapi juga mengenakan pakaian yang seragam saat melakoni pekerjaan sebagai asisten dokter.
"Terutama ketika anak-anak masih kecil, mereka pasti kesulitan membedakan kami," kata mereka, dikutip dari People.
"Hal itu bahkan lebih membingungkan bagi mereka ketika kami berdua mengenakan seragam kerja karena kami terlihat persis sama," lanjutnya.
Salah satu peristiwa jenaka di dalam keluarga ini menimpa putra kedua Buckman, Charlie, sewaktu dirinya masih berumur 9 bulan. Pada usia yang begitu belia, Charlie belum sanggup mengamati dan mengenali detail wajah ibunya dengan matang.
Dalam sebuah kesempatan, Charlie mendadak menangis histeris meskipun faktanya ia sedang berada di dalam dekapan erat ibu kandungnya sendiri. Bayi tersebut justru mengarahkan tubuhnya dan berusaha menggapai saudari kembar sang ibu karena mengira itulah orang tua aslinya.
"Dia sedang digendong oleh ibu kandungnya, tetapi tidak mempercayainya dan terus menangis, berusaha meraih saudara kembarnya yang lain," kenang mereka.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur buah hati mereka, insiden tertukar ini ternyata tidak lantas berhenti begitu saja. Buckman dan Nowakowski mengaku masih kerap menyaksikan anak-anak mereka berjalan menghampiri sosok ibu yang keliru.
Kendati demikian, situasi salah sasaran tersebut biasanya hanya berlangsung selama beberapa saat. Anak-anak itu akan segera menyadari kekeliruan mereka lalu berbalik arah untuk mencari keberadaan ibu kandung yang sebenarnya.
"Ada begitu banyak momen lucu di mana bayi-bayi kami meraih ibu yang salah, berhenti sejenak, melihat ke sana kemari, lalu merangkak ke ibu yang benar," jelas mereka.
Kebingungan yang Melanda Seluruh Anggota Keluarga
Fase salah mengenali ini tidak cuma terjadi sewaktu anak-anak masih berada di usia bawah lima tahun. Buah hati mereka yang kini sudah tumbuh lebih besar pun sesekali masih terjebak dalam situasi membingungkan yang sama.
Bukan hanya anak-anak, lingkaran besar keluarga mereka pun terkadang ikut terkecoh oleh kemiripan visual yang menyerupai pinang dibelah dua ini.
"Anak-anak kami yang lebih besar juga melakukan hal yang sama, dan bahkan sekarang pun mereka masih bingung sesekali. Sejujurnya, semua orang di keluarga kami mengalaminya," katanya.
Kekeliruan identitas ini ternyata merembet hingga ke luar lingkungan tempat tinggal mereka. Dalam aktivitas sosial sehari-hari, rekan sejawat, para pasien di tempat kerja, hingga suami mereka masing-masing pernah salah menyapa.
"All orang pernah salah mengenali kami. Itu terjadi di rumah dan terutama di tempat kerja ketika kami berdua sedang memeriksa pasien. Pasien jadi bingung ketika salah satu dari kami memanggil mereka kembali dan kemudian mereka melihat saudara kembar yang lain lewat," tutur mereka.
Langkah Adaptasi dan Kedekatan Antar-Keluarga
Guna meminimalkan kesalahpahaman yang terus berulang, pasangan kembar ini berupaya melakukan sedikit siasat penyesuaian. Langkah yang mereka tempuh adalah dengan mencoba mengenakan setelan pakaian dengan corak atau warna berbeda saat sedang pergi bersama.
Mereka memahami bahwa trik perbedaan busana tersebut tidak serta-merta menghapus seluruh kekeliruan orang sekitar. Namun, pilihan pakaian yang kontras setidaknya dapat menjadi alat bantu bagi lingkungan sosial untuk membedakan identitas keduanya.
Di balik segala kebingungan visual yang terjadi, kedua keluarga kecil ini memilih untuk menerapkan pola pengasuhan anak secara kolektif. Intensitas pertemuan yang tinggi membuat jalinan emosional di antara anak-anak mereka tumbuh sangat kuat.
"Rasanya seperti kami membesarkan semua anak bersama-sama," ungkap mereka.
"Anak-anak kami jelas lebih menganggap satu sama lain sebagai saudara khan-dung daripada sepupu," sambungnya.