Amerika Serikat Meluncurkan Serangan Udara Baru Terhadap Iran
Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru terhadap sasaran militer Iran pada Rabu malam waktu setempat untuk melemahkan kapabilitas Teheran dalam mengancam kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan strategis Selat Hormuz, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Operasi militer susulan yang berlangsung selama 90 menit tersebut menyasar sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran di Pulau Tunb Besar setelah ketegangan kedua negara kembali meningkat.
Sebelumnya, konflik memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA), yaitu Mombasa B dan Al Bahiya, hingga menyebabkan satu pekerja asal India tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran agar menahan diri dari tindakan agresif lebih lanjut di wilayah perairan tersebut.
"Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka pada dasarnya tahu, mereka tahu apa situasinya… mereka sebaiknya bersikap baik." kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump menambahkan bahwa situasi saat ini membuat pihak Teheran tertekan dan ingin mencari jalan keluar.
"Mereka sangat ingin mencapai penyelesaian. Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pemerintah AS membuka peluang diplomasi namun tetap bersiap mengambil tindakan tegas jika pembicaraan tidak membuahkan hasil.
"Kita akan see apakah kami ingin mencapai penyelesaian dengan mereka atau apakah kami akan menuntaskan semuanya." kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Di sisi lain, negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan posisi negaranya yang tidak akan tunduk pada tekanan sepihak tanpa adanya keuntungan nyata.
"tidak memiliki alasan" kata Negosiator Utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ghalibaf menyatakan bahwa perlawanan militer dan diplomasi merupakan bagian dari strategi eksistensial Iran untuk mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
Sementara itu, ancaman Trump sebelumnya yang sempat menargetkan infrastruktur sipil menuai kritik tajam dari komunitas internasional terkait potensi pelanggaran hukum humaniter.
"Menurut hukum internasional, menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang." kata Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Trk.
Di pihak Iran, pihak berwenang berdalih bahwa tindakan penghentian kapal tanker dilakukan karena adanya pelanggaran prosedur pelayaran internasional di zona tersebut.
"kerja sama dengan musuh agresor" kata Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Dampak langsung dari pertempuran serta pemberlakuan kembali blokade laut oleh militer AS kini memicu kekhawatiran global menyusul melonjaknya harga minyak mentah Brent hingga mencapai US$84,87 per barel.