Amerika Serikat Gempur Militer Iran Usai Gencatan Senjata Berakhir

Share

Pasukan Amerika Serikat menggempur sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah negara. Ketegangan ini memicu aksi balasan dari Teheran yang menyerang pangkalan militer Washington di kawasan Teluk, seperti dilansir dari Detikcom.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru tersebut ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Operasi militer ini langsung memicu rentetan ledakan di sepanjang pesisir selatan Iran.

Di tengah situasi panas tersebut, Presiden AS Donald Trump sempat melakukan kesalahan fatal dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela-sela KTT NATO di Turki pada Rabu (8/7). Trump keliru menyebut Iran sebagai negara lain dan salah memanggil nama Zelensky yang berada di sampingnya.

Pihak Iran merespons keras tindakan ofensif Washington dengan mengumumkan ancaman pertahanan darat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga segera meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain hingga memicu sirene peringatan dini di wilayah tersebut.

Pihak militer Iran menegaskan kesiapan mereka dalam menghadapi pasukan asing yang mencoba masuk ke wilayah kedaulatan mereka.

"neraka" cetus Laksamana Muda Habibollah Sayyari, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran.

Sementara itu, Washington mengancam akan melipatgandakan kekuatan serangan udara mereka jika stabilitas pelayaran komersial global masih diganggu.

"Republik Islam Jepang" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Belum ada laporan mengenai jumlah korban jiwa akibat serangan udara yang diluncurkan oleh kedua belah pihak di kawasan Teluk tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author