Amerika Serikat Dukung Presiden Bolivia Hadapi Gelombang Unjuk Rasa Besar
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan dukungan resmi kepada Presiden Bolivia Rodrigo Paz yang tengah menghadapi desakan mundur dari rakyatnya melalui aksi unjuk rasa masif selama beberapa pekan terakhir, seperti dilansir dari Detikcom pada Jumat (5/6/2026).
Pernyataan sikap dari Washington tersebut menyusul kelumpuhan aktivitas di berbagai wilayah Bolivia akibat gelombang protes yang memicu krisis pemenuhan kebutuhan logistik masyarakat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi komitmen tersebut secara langsung kepada Paz melalui saluran telepon pada Kamis (5/6) malam waktu setempat.
"meningkatkan bantuan darurat dan dukungan operasi logistik" kata Rubio, Menteri Luar Negeri AS, untuk menolong warga Bolivia yang tengah didera kelangkaan akut makanan serta obat-obatan akibat pemblokiran jalan.
Di sisi lain, penegasan mengenai stabilitas politik Bolivia juga disuarakan oleh otoritas pertahanan Amerika Serikat yang memantau ketat eskalasi situasi di negara Amerika Selatan itu.
"Amerika Serikat sedang mengawasi," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS.
Pihak Pentagon berkomitmen memberikan bantuan penuh agar pemerintahan sah pimpinan Paz terlindungi dari ancaman kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi kekacauan tersebut.
"untuk memastikan bahwa para teroris narkoba dicegah untuk mengambil keuntungan dari kematian dan kehancuran di belahan Bumi kita" kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS.
Presiden Rodrigo Paz, pemimpin berhaluan konservatif pro-bisnis, baru menjabat selama tujuh bulan setelah memenangi pemilu yang mengakhiri kekuasaan sayap kiri selama dua dekade.
Langkah Paz memulihkan hubungan diplomatik dengan AS serta memotong subsidi bahan bakar memicu penolakan luas dari kalangan pekerja, petani, penambang, hingga guru.
Berdasarkan data resmi pemerintah Bolivia, jumlah titik blokade jalan kini mencapai sekitar 100 lokasi, melonjak hingga dua kali lipat dalam waktu dua minggu.
Imbas pemblokiran tersebut memicu lonjakan harga barang pokok serta kelangkaan komoditas penting di ibu kota La Paz, El Alto, dan kota-kota sekitarnya, yang memaksa warga mengantre berjam-jam demi mendapatkan bahan pangan.