Alasan Psikologis Anak Suka Mengumpulkan Benda Sembarangan

Share

Orang tua sering menemukan benda acak seperti batu, ranting, hingga daun kering di dalam saku baju atau celana anak. Kebiasaan mengumpulkan benda sembarangan ini ternyata dialami oleh sebagian besar anak pada masa kanak-kanak awal hingga pertengahan.

Pengumpulan benda acak tersebut bukan sekadar kebiasaan aneh. Aktivitas ini mencerminkan proses perkembangan minat serta kemampuan kognitif anak yang sedang berjalan, seperti dilansir dari HaiBunda.

Proses mengoleksi benda juga memberikan dampak positif pada kondisi emosional anak. Benda-benda tersebut menghadirkan rasa aman dan memberi mereka kendali atas lingkungannya.

Asisten profesor ECE Rasmussen, Joni Kuhn, menjelaskan peran kebiasaan ini terhadap regulasi diri anak. Rutinitas menyusun benda khusus di meja dapat membantu menenangkan diri sebelum anak memulai aktivitas lain.

"Ketika anak-anak mengumpulkan sesuatu, bagi saya itu berarti mereka sedang mengembangkan minat dan keterampilan kognitif mereka," kata Joni Kuhn.

"Mengumpulkan barang juga memberi anak-anak rasa kendali. Ini dapat membantu mereka merasa aman," ujar Joni Kuhn.

Dari sudut pandang psikologi, aktivitas mengumpulkan benda disebut sebagai skema. Skema merupakan pola mental berulang yang dimanfaatkan anak untuk memahami cara kerja lingkungan sekitar.

Direktur layanan anak Pusat Trauma dan Ketahanan UTHealth Houston, Leslie Taylor, PhD, menuturkan bahwa anak-anak mempelajari dunia dengan mengamati persamaan dan perbedaan dari benda yang dikumpulkan.

Anak-anak biasanya menceritakan kisah di balik benda temuan mereka. Proses menceritakan kembali momen penemuan tersebut turut melatih kosa kata dan kemampuan berbahasa anak.

Kegiatan mengoleksi juga menjadi sarana eksplorasi dan ekspresi diri. Anak yang mengumpulkan bulu unggas mungkin tertarik pada tekstur atau warna, sementara anak yang menyusun mobil-mobilan sedang mengeksplorasi konsep gerak dan keteraturan.

Keterampilan matematika dasar ikut terasah saat anak mengelompokkan benda-benda tersebut. Tanpa diminta orang dewasa, anak-anak secara alami akan memilah koleksinya berdasarkan ukuran, warna, atau bentuk.

"Mereka memperhatikan kesamaan barang-barang tersebut, perbedaan mereka, dan bagaimana barang-barang tersebut sesuai dengan gambaran dunia mereka yang sedang berkembang," kata Leslie Taylor.

Orang tua perlu memahami perbedaan antara perilaku mengoleksi yang normal dan tindakan menimbun barang (hoarding). Koleksi anak yang normal memiliki keterikatan tema yang jelas serta dipamerkan dengan rasa bangga.

Perilaku menimbun ditandai dengan pengumpulan barang tanpa susunan tema yang jelas. Anak yang menimbun cenderung merasa malu, cemas saat barangnya disentuh, serta tidak memahami alasan mengumpulkan benda-benda tersebut.

"Sebuah koleksi memiliki koherensi tematik, dan anak-anak sering kali bangga dengan koleksi mereka. Mereka ingin membagikannya dengan orang lain. Menimbun pada dasarnya berbeda," tutur Leslie Taylor.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author