Ajarkan 10 Keterampilan Hidup Ini kepada Anak Sebelum Usia Remaja

Share

Mempersiapkan masa depan anak yang mandiri dapat dimulai dengan mengajarkan keterampilan hidup praktis sejak dini. Keterampilan tersebut tidak hanya mendukung kesiapan di dunia profesional kelak, tetapi juga memberikan keunggulan dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

Keahlian praktis seperti memasak menu sehat atau merawat pakaian terbukti mampu menghemat waktu serta biaya. Keterampilan ini juga berpengaruh positif pada kesehatan mental anak.

Anak-anak akan merasa lebih kompeten dalam menyelesaikan urusan harian yang kemudian meningkatkan harga diri serta rasa kendali atas hidup mereka. Perasaan ini berkontribusi pada level kebahagiaan dan kepuasan diri sang anak.

Dilansir dari HaiBunda, terdapat 10 keahlian penting yang sebaiknya ditanamkan kepada anak sebelum mereka memasuki usia remaja.

Melatih anak di dapur bisa dimulai dari hal kecil, seperti memotong pisang menggunakan pisau plastik atau kayu untuk anak usia dini. Anak berumur lima tahun ke atas dapat diajarkan membuat roti tangkap dan smoothie.

Saat memasuki usia tujuh tahun, anak bisa diperkenalkan dengan cara mengoperasikan oven pemanggang roti. Penambahan keahlian dapur secara bertahap ini membuat anak siap memakai kompor secara aman di bawah pengawasan pada usia 10 tahun.

2. Membersihkan Rumah dan Mencuci Pakaian

Membiasakan anak membersihkan tempat tinggal dan merawat pakaian menghindari mereka dari sifat tidak mandiri saat remaja. Anak-anak perlu dilatih mencuci piring, menyedot debu, hingga membersihkan debu di perabotan.

Aktivitas mencuci pakaian dapat mulai diajarkan sejak anak berusia sekitar enam tahun. Orang tua bisa menyediakan bangku kecil di dekat mesin cuci bukaan atas dan membimbing mereka mengukur detergen, memilih pengaturan, lalu menyalakan mesin.

3. Merawat Kebun dan Halaman

Keahlian mengurus lanskap dasar seperti menanam benih, mencabut tanaman liar, memangkas semak, hingga menyapu daun kering sangat bermanfaat bagi segala usia. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana efektif mengajak anak beraktivitas di luar ruangan demi mendapatkan udara segar. Namun, aktivitas memotong rumput halaman tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa.

4. Membaca Peta Penunjuk Jalan

Kemampuan membaca peta cetak atau petunjuk arah konvensional sangat krusial ketika sinyal GPS tidak akurat. Melatih navigasi anak bisa dilakukan melalui aktivitas menyenangkan seperti permainan berburu harta karun, geocaching, atau membiarkan mereka memandu jalan saat berkunjung ke kebun binatang dan museum.

5. Membantu Seseorang yang Tersedak

Keahlian menyelamatkan nyawa bisa dipelajari oleh anak sejak usia dini. Anak-anak yang menginjak usia 9 tahun sudah dapat dilatih melakukan CPR. Orang tua yang membutuhkan panduan pembelajaran metode pertolongan ini dapat mengakses tutorialnya melalui platform YouTube.

6. Mengobati Luka Ringan

Orang tua disarankan tidak bereaksi berlebihan saat anak terluka agar mereka tidak panik melihat darah. Menyusun rencana penanganan pertama membuat fokus anak teralih dari rasa sakit dan sangat berguna saat tidak ada orang dewasa di sekitar mereka.

Langkah penanganan luka kecil meliputi mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, kemudian membersihkan kotoran pada luka memakai air hangat. Selanjutnya, tekan luka memakai kain bersih selama satu hingga dua menit sampai darah berhenti.

Oleskan obat antiseptik atau petroleum jelly menggunakan kapas agar luka tetap lembap. Langkah terakhir adalah menutup bagian yang terluka dengan perban perekat atau kain kasa beserta plester.

7. Mengelola Keuangan Pribadi

Proses mendidik anak menjadi konsumen cerdas membutuhkan latihan konsisten melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama yaitu mengenalkan penganggaran dengan cara menjelaskan alasan pemilihan barang saat berbelanja dan sesekali meminta anak membayar di kasir.

Tahap kedua adalah memberikan uang saku berkala lalu menentukan barang apa saja yang harus dibeli menggunakan uang mereka sendiri, seperti buku atau mainan. Langkah ketiga berupa mengajarkan perbandingan harga barang antar-merek maupun antar-toko, baik secara langsung atau daring.

8. Menggunakan Internet Secara Bijak

Interaksi anak dengan layar digital yang semakin tinggi memerlukan batasan keamanan yang ketat. Orang tua wajib mengarahkan anak membuat kata sandi yang rumit dan melarang mereka membagikannya kepada siapa pun.

Pastikan interaksi digital anak hanya dilakukan dengan orang yang dikenal di dunia nyata. Anak juga dilarang memberikan informasi sensitif seperti nomor telepon, alamat rumah, serta tanggal lahir.

Anak harus dibiasakan meminta izin sebelum mengklik pop-up atau mengunduh dokumen. Orang tua juga perlu menegaskan bahwa anak bisa melaporkan segala masalah digital yang mereka alami kapan saja.

9. Menulis Surat Fisik

Keahlian menulis surat tetap penting dipertahankan di tengah era digital. Anak usia balita dapat diajak membuat catatan pendek berhias gambar untuk keluarga, lalu menempelkan perangko dan memasukkannya ke kotak pos.

Bagi anak yang lebih besar, mereka bisa menulis surat mandiri sekaligus mencantumkan alamat di amplop. Momen ini dapat dipakai untuk mengenalkan lima elemen surat, yaitu tanggal, salam pembuka, isi, penutup, beserta tanda tangan.

10. Membungkus Kado

Aktivitas mengemas hadiah memberikan kepuasan tersendiri bagi anak saat ingin memberi sesuatu ke orang lain. Anak usia prasekolah dapat dilatih memotong kertas pembungkus dan menempelkan selotip.

Anak usia taman kanak-kanak ke atas bisa diajarkan tahap lanjutan dengan bantuan orang tua. Tahap tersebut meliputi melepas label harga barang, menentukan dimensi kotak yang sesuai, serta melipat kertas kado agar ukurannya pas sebelum dipotong.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author