IHSG Merosot ke Level 5.724 Akibat Penyempitan Surplus Neraca Dagang
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Juni 2026 dengan pergerakan yang sangat lesu. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, indeks terus bergerak di zona merah hingga menumpuk pelemahan sebesar 6,4% ke level 5.724.
Fluktuasi tinggi yang terjadi dalam tiga hari pertama bulan ini selaras dengan tren historis lima tahun terakhir. Jika dirata-ratakan, pergerakan indeks sepanjang Juni memang kerap mengalami koreksi sebesar 0,88%.
Tekanan berat pada periode ini datang bersamaan dengan rilis data makroekonomi domestik. Badan Pusat Statistik melaporkan surplus neraca perdagangan barang Indonesia menyusut tajam menjadi US$89,1 juta pada April 2026.
Angka tersebut merosot signifikan dari capaian Maret 2026 yang sempat menyentuh US$3,32 miIiar. Realisasi ini bahkan berada jauh di bawah ekspektasi pasar, di mana konsensus Bloomberg memproyeksikan median surplus sebesar US$1,31 miIiar.
Surplus pada April 2026 menjadi rekor terendah sepanjang periode surplus 72 bulan berturut-turut. Kondisi tersebut sekaligus mengonfirmasi adanya perlambatan aktivitas perekonomian di dalam negeri.
Berdasarkan data pasar modal, performa negatif ini mengulang memori Juni 2025 ketika indeks terkoreksi 3,46%. Penurunan tajam itu menyusul tren bearish Juni 2022 yang juga memangkas nilai indeks hingga 3,32%.Namun, performa positif sempat terjadi pada Juni 2024 dengan penguatan sebesar 1,33%. Tren hijau tersebut melanjutkan apresiasi Juni 2023 yang tumbuh 0,43% serta kenaikan 0,64% pada Juni 2021.
Pada Juni 2025, sentimen negatif datang dari eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Di sisi domestik, PMI Manufaktur S&P Global Indonesia saat itu terkontraksi ke level 47,4.
Rangkaian Sentimen Ekonomi Juni 2026
Laju indeks sepanjang bulan ini akan banyak dipengaruhi oleh sejumlah rilis data penting. Salah satunya adalah realisasi inflasi Mei 2026 yang menanjak hingga 3,08% secara tahunan (yoy).
Laju inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi konsensus sebesar 2,94% yoy maupun realisasi April yang berada di angka 2,42%. Selain itu, performa eksternal Indonesia juga sedang mengalami tekanan.
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miIiar. Kondisi ini berbalik dari posisi Kuartal IV-2025 yang mencatatkan surplus US$6,07 miIiar.
Nilai defisit triwulan pertama ini bahkan telah melampaui akumulasi defisit sepanjang tahun 2025 yang sebesar US$7,84 miIiar. Defisit NPI mengindikasikan berkurangnya pasokan valuta asing di dalam negeri akibat arus modal keluar.
Pelaku pasar kini tengah mencermati rilis data ekonomi lainnya yang akan datang. Agenda tersebut meliputi laporan Cadangan Devisa, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), data penjualan ritel, serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI Rate.
Analisis Teknikal dan Perbandingan Regional
Secara teknikal menggunakan indikator Moving Average (MA), pergerakan indeks saat ini berada di bawah garis MA-50, MA-100, dan MA-200 yang mengonfirmasi fase bearish kuat.
Area support terdekat berdasarkan garis tren pelemahan berada di level 5.600. Jika level ini ditembus dengan volume tinggi, indeks berpotensi melanjutkan penurunan menuju kisaran 5.400 hingga 5.200, dengan batas stop loss di 5.000.
Sementara itu, titik resistensi kuat saat ini tertahan di level 6.200 dan 6.400, dengan level psikologis utama pada posisi 6.500.
Di tingkat regional, pergerakan indeks domestik cenderung tertinggal dari bursa saham Asia lainnya. Berdasarkan data historis rata-rata lima tahun, indeks Nikkei 225 Tokyo melonjak 2,69%, Kospi Korea menguat 1,85%, dan Hang Seng Hong Kong naik 1,21%.
Sebaliknya, Straits Times Index Singapura melemah 0,39% dan FTSE Bursa Malaysia KLCI merosot hingga 2,15%. Koreksi mendalam pada bursa Malaysia terjadi akibat tekanan inflasi global serta kebijakan suku bunga agresif dari bank sentral dunia.