Analis Sebut Investor Global Mulai Kurangi Eksposur Pasar Modal Indonesia

Share

Arus modal asing terus keluar dari pasar domestik akibat meningkatnya risiko komunikasi kebijakan dan kepemimpinan di mata investor global, yang memicu kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dollar AS.

Kondisi pasar modal Indonesia saat ini dinilai mengalami tekanan spesifik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya yang justru mencatatkan pertumbuhan positif.

Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa pasar saham domestik sedang menghadapi koreksi tajam yang membawa indeks kembali ke level terendah sejak tahun lalu.

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza Camelia Suryanata dalam keterangan tertulis pada Kamis (4/6/2026).

Liza menambahkan bahwa kekhawatiran pelaku pasar juga dipicu oleh outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody's dan Fitch, penyusutan kelas menengah, serta risiko komunikasi kebijakan.

"Serta yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global," ucap Liza Camelia Suryanata.

Meskipun demikian, ia menilai Indonesia belum sepenuhnya masuk dalam fase penurunan peringkat secara struktural.

"Mungkin saja, tetapi belum tentu," ucap Liza Camelia Suryanata.

Indikator penurunan eksposur ini terlihat dari return Indonesia ETF (EIDO) yang mencatatkan kinerja negatif sebesar minus 28,6 persen sejak awal 2025, berbanding terbalik dengan pasar negara berkembang lain yang naik 64,6 persen, Vietnam 63,2 persen, Taiwan 107,2 persen, dan Amerika Serikat 30,9 persen.

"With other words, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," ucap Liza Camelia Suryanata.

Fokus perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pertengahan Juni 2026 yang menjadi periode krusial karena adanya agenda global market accessibility review dan rebalancing indeks global.

"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Ia menyoroti bahwa sebagian besar sentimen negatif dalam enam bulan terakhir sebenarnya sudah terjadi di pasar, namun status investment grade Indonesia masih dapat dipertahankan.

"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Di tengah proses adaptasi pasar terhadap implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan Devisa Hasil Ekspor, munculnya aturan baru pajak untuk UMKM dinilai turut menambah sentimen di bursa.

"Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh?, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Sementara itu, faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik global dan ancaman tarif baru dari Amerika Serikat juga turut menekan bursa saham di kawasan Asia.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus memaparkan bahwa usulan tarif tambahan hingga 12,5 persen oleh Amerika Serikat terhadap 60 mitra dagang memicu kekhawatiran baru di pasar Asia.

"Para pelaku pasar juga terus melanjutkan perkembangan konflik AS-Iran setelah ketegangan kembali meningkat," ungkap Maximilianus Nicodemus.

Dari dalam negeri, ia menambahkan bahwa penurunan surplus neraca perdagangan bulan April ke level terendah sejak 2020 serta kenaikan inflasi tahunan menjadi 3,08 persen pada Mei turut mengurangi dukungan devisa hasil ekspor.

Tekanan bertambah setelah Moody's Ratings menetapkan peringkat kredit Baa2 dengan outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM) yang sejalan dengan sovereign rating Indonesia.

Aksi jual bersih oleh investor asing pada perdagangan Rabu (3/6/2026) mencapai Rp864 miliar, dengan tekanan terbesar melanda saham-saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp686 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp428 miliar.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author