Pasar Saham Asia Melemah Akibat Ketidakpastian Global
Aktivitas jual bersih oleh investor asing memicu penurunan lanjutan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,12 persen ke posisi 5.874,70 pada pembukaan perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir CNBC Indonesia, indeks domestik dibuka pada level 5.919,57 dan terus tertekan hingga menyentuh titik terendah harian di level 5.873,00 akibat melemahnya mayoritas saham.
Tercatat sebanyak 334 saham bergerak di zona merah, sedangkan 107 saham menguat dan 518 saham stagnan dengan total nilai transaksi awal mencapai Rp470,1 miIiar dari volume 580,2 juta saham. Penurunan ini turut memangkas kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menjadi Rp10.311 triliun.
Koreksi pasar modal tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga melanda sejumlah bursa utama di kawasan Asia Pasifik yang terdampak oleh anjloknya Wall Street dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Indeks Kospi Korea Selatan terpantau merosot 2 persen, sementara indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,4 persen dan indeks Topix melemah 0,91 persen akibat aksi ambil untung investor. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 ikut melemah 0,84 persen, disusul penurunan kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong ke level 25.312.
Di tengah volatilitas pasar keuangan, Pemerintah Indonesia melakukan koordinasi dengan lembaga pemeringkat internasional untuk mengevaluasi stabilitas makroekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik, Kim Eng Tan, di Jakarta pada Rabu (3/6/2026) untuk mendiskusikan ketahanan domestik terhadap risiko eksternal.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga melalui akun Instagram resminya.
Pemerintah menjelaskan kepada perwakilan Standard & Poor's (S&P) Global bahwa kombinasi kebijakan fiskal, kuatnya konsumsi domestik, dan hilirisasi industri menjadi pilar utama penjaga momentum pertumbuhan nasional.
"Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," katanya.
Hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi, serta pangan dipaparkan sebagai agenda transformasi jangka panjang untuk menghadapi tekanan ekonomi global.
"Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin kuat menghadapi tekanan global sekaligus mampu tumbuh lebih kompetitif dalam jangka panjang," ujar Airlangga.