Inpex Masela Teken Perjanjian Proyek Gas Abadi dengan Tiga BUMN
Inpex Masela Ltd. resmi menandatangani perjanjian pengembangan proyek dan kontrak komersial Lapangan Gas Abadi di Blok Masela bersama tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kerja sama strategis untuk pemenuhan kebutuhan gas ini dilansir dari Bloombergtechnoz.
Tiga perusahaan negara yang terlibat dalam kesepakatan tersebut adalah PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN. Langkah ini diambil guna mengamankan pasokan energi domestik.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa total kapasitas produksi gas dari proyek di Blok Masela ini mencapai sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Mayoritas dari total volume produksi tersebut kini telah dialokasikan.
"Masela itu kan sekitar total 1.200-an [MMSCFD], masih ada spare 250 [MMSCFD] yang untuk kalau kita butuh untuk nanti kita bikin apa lagi. Akan tetapi, yang lain sudah; dalam negeri dan luar negeri sudah. 1.000-an MM per hari sudah," ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas pada Rabu (20/5/2026).
Sektor kelistrikan, industri pupuk, serta jaringan pipa gas nasional menjadi tujuan utama penyaluran gas domestik tersebut. Sebagian gas untuk industri pupuk dialirkan melalui pipa, sedangkan sisa volume lainnya akan dipasarkan dalam bentuk gas alam cair (LNG).
Pasar ekspor juga telah mengamankan pasokan, di mana pembeli asal Jepang mengajukan permintaan LNG sekitar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa). Sejumlah perusahaan internasional lain seperti Eni SpA dan BP plc turut masuk dalam daftar peminat.
"Selain Jepang ada juga, ada dua, Eni Spa, BP trader," kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.
Proses pemetaan pembeli ini telah melalui tahapan panjang dari puluhan perusahaan peminat. Penjajakan kontrak penjualan LNG Blok Masela awalnya melibatkan 66 calon pembeli sebelum akhirnya mengerucut secara bertahap.
"Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela dari 66 calon buyer mengerucut menjadi 40, kemudian sembilan buyer, dan terakhir tinggal lima buyer yang membahas key term dengan tim teknis," ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas dalam pernyataan tertulis pada Minggu (15/3/2026).
Lima perusahaan global yang bertahan dalam tahap akhir tersebut meliputi Osaka Gas, Kyushu Elektrik, Shell Trading, BP Trading, dan Chevron Trading. Pertemuan negosiasi terakhir yang digelar di Singapura dan Tokyo menunjukkan selisih penawaran harga yang semakin ketat.
"Perbedaan harga yang diajukan tinggal sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent," kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.
Rata-rata penawaran harga dari calon pembeli berada pada kisaran 12% dari harga minyak Brent. Sementara itu, konsorsium penjual yang beranggotakan Inpex, Pertamina, dan Petronas mengajukan harga di atas asumsi awal dokumen rencana pengembangan (PoD).
Berdasarkan dokumen PoD, alokasi pasar ekspor ditetapkan sebesar 60% dan kebutuhan domestik mendapatkan porsi 40%. Pemerintah kini menargetkan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) untuk proyek Abadi LNG ini dapat tercapai pada Desember 2026.