IHSG Anjlok 4,94 Persen Dipicu Rumor Peringkat Kredit S&P

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup merosot tajam sebesar 4,94 persen ke level 5.889,48 pada perdagangan Sesi I, Rabu (3/6/2026). Kejatuhan mendalam ini dipicu oleh kecemasan investor terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan rumor penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings.

Koreksi ini membawa IHSG menembus level support krusialnya di 6.000 dan kembali ke posisi terendah sejak Mei 2021. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sebanyak 714 saham mengalami pelemahan, 64 saham stagnan, dan hanya 35 saham yang menguat dengan nilai transaksi kepanikan investor mencapai hampir Rp15 triliun.

Pelemahan indeks saham domestik berbanding terbalik dengan bursa saham Asia lainnya yang justru menguat, seperti NIKKEI 225 yang naik 2,98 persen dan Straits Time Singapura sebesar 0,78 persen. Penurunan IHSG didorong oleh merosotnya saham-saham sektor barang baku minus 10,2 persen, sektor energi minus 7,16 persen, serta aksi jual masif pada saham grup konglomerasi besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan Grup Barito.

Sentimen negatif pasar juga diperparah oleh laporan Moody's Ratings yang memberikan peringkat kredit Baa2 dengan outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM). Selain itu, penyusutan surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada April 2026 menjadi US$89,1 juta ikut menekan pasar.

"Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI (Jakarta Composite Index) saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai Rp17.928 per dolar AS." ujar Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana.

Tekanan kurs tersebut terus berlanjut hingga rupiah menyentuh level Rp17.935 per dolar AS di pasar spot menurut data Bloomberg siang hari. Panin Sekuritas mencatat bahwa kondisi ini mendorong adanya foreign exchange risk bagi investor asing yang menekan aliran modal.

“Pelemahan (IHSG) ini juga dipengaruhi oleh beredarnya rumor mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi BBB-,” papar Panin Sekuritas.

Penurunan peringkat tersebut diperkirakan memicu penyesuaian pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi. Panin Sekuritas juga menyoroti data makroekonomi terkini terkait performa perdagangan luar negeri Indonesia.

“Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sepanjang 72 bulan tersebut,” terang Panin.

Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa pelaku pasar sedang cemas menantikan pengumuman MSCI 2026 Global Market Accessibility Review dan Annual Market Classification Review pada Juni 2026. Hal ini berkaitan dengan kekhawatiran MSCI sebelumnya mengenai transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten di dalam negeri.

“Pasar domestik menunggu keputusan MSCI terkait hasil evaluasi reformasi pasar modal Indonesia,” jelas Phintraco Sekuritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ihsg pasar modal rupiah saham
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author