Rupiah Melemah ke Rp17.863 Per Dolar AS Picu Kejatuhan Saham Properti dan Farmasi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami pelemahan sepanjang tahun 2026 hingga menyentuh angka Rp17.863 pada 2 Juni 2026 berdasarkan kurs acuan Bank Indonesia JISDOR. Penurunan ini memicu tekanan berat bagi emiten properti dan farmasi di Bursa Efek Indonesia.
Kondisi kurs tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 6,44 persen secara year-to-date dari posisi akhir tahun 2025 yang berada di level Rp16.720, dilansir dari BloombergTechnoz. Faktor eksternal berupa ketidakpastian situasi geopolitik di Timur Tengah akibat sinyal yang bertolak belakang antara Amerika Serikat dan Iran menjadi penyebab utama pelemahan ini.
Sinyal penurunan nilai mata uang Indonesia juga terdeteksi di pasar New York pada Selasa, 2 Juni 2026, melalui kontrak Non Deliverable Forward satu bulan yang sudah mencapai Rp17.920 per dolar Amerika Serikat. Ketegangan global diperparah oleh laporan kantor berita Tasnim bahwa Teheran dan sekutunya mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, meski Presiden Donald Trump menyatakan ada potensi kesepakatan pekan depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan ke depan. Ketidakpastian geopolitik global dinilai akan terus membayangi langkah pemerintah dalam menjaga penguatan mata uang domestik.
"Untuk rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju Rp18.150 per dolar AS di minggu pertama Juni," kata Ibrahim.
Faktor domestik turut memperberat posisi rupiah akibat inkonsistensi kebijakan ekonomi yang memicu kekhawatiran pelaku pasar. Tekanan ini berdampak langsung pada emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama perusahaan yang memiliki beban utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat karena nilai utang mereka otomatis membengkak.
Sektor properti mencatatkan penurunan indeks sektoral hingga 31,46 persen sepanjang tahun 2026, dengan penurunan tajam pada saham PT Bumi Serpong Damai Tbk sebesar 30,39 persen ke Rp630 dan PT Alam Sutera Realty Tbk sebesar 29,45 persen ke Rp115. Saham PT Summarecon Agung Tbk juga melemah 26,18 persen ke Rp282, PT Lippo Karawaci Tbk turun 21,43 persen ke Rp65, PT Pakuwon Jati Tbk turun 16,57 persen ke Rp282, serta PT Modernland Realty Tbk ambrol 18,03 persen ke level Rp50.
Kondisi serupa melanda sektor farmasi yang mengandalkan 90 persen bahan baku impor sehingga saham kesehatan ini anjlok 25,91 persen secara year-to-date. Saham PT Pyridam Farma Tbk merosot 51,86 persen ke Rp230, PT Kalbe Farma Tbk amblas 38,17 persen ke Rp745, PT Tempo Scan Pacific Tbk terpangkas 15,09 persen ke Rp2.420, PT Phapros Tbk turun 8,67 persen ke Rp274, dan PT Kimia Farma Tbk melemah 7,57 persen ke posisi Rp470.