Analis Prediksi Skenario Rupiah Tembus Level Rp18 Ribu

Share

Potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS kini terbuka lebar akibat pengaruh data ekonomi terkini dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah pada Selasa (2/6).

Kondisi mata uang domestik tersebut mencatatkan salah satu level terlemahnya sepanjang tahun ini setelah merosot 74 poin atau 0,42 persen ke posisi Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6) pagi. Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa ruang bagi mata uang Garuda untuk terdepresiasi lebih lanjut masih tersedia.

"Kemungkinan ada, namun tidak besar, masih ada ruang plus 100 poin lebih. Saya berharap tidak akan menembus Rp18 ribu," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/6).

Lukman menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada sentimen luar negeri, terutama konflik Timur Tengah. Penembusan level psikologis baru dapat terjadi dalam waktu dekat jika situasi global terus memburuk.

"Namun tentunya apabila data-data ekonomi dan situasi geopolitik di Timur Tengah memanas, bisa dalam pekan ini menembus Rp18 ribu," ujarnya.

Faktor eksternal berupa ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menemui titik temu juga disorot sebagai penekan utama pasar keuangan. Pengamat mata uang Ariston Tjendra menyebutkan ketiadaan kesepakatan damai memicu kekhawatiran terkait pasokan energi global.

"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujar Ariston.

Selain sentimen global, Ariston menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang nasional diperparah oleh aksi keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi domestik. Kebutuhan terhadap mata uang dolar AS di dalam negeri pun ikut melonjak akibat aktivitas repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri.

"Ditambah isu asing keluar dari pasar saham dan juga pasar obligasi Indonesia, permintaan dolar yang tinggi dari repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri," ujarnya.

Ariston memperkirakan eskalasi baru di kawasan Timur Tengah akan menjadi pemicu utama yang membuat pelemahan rupiah semakin dalam menuju level Rp18.000.

"Kalau ada eskalasi baru di Timur Tengah ini, rupiah berpotensi makin melemah. Potensi ke Rp18 ribu masih terbuka," katanya.

Kendati demikian, kelanjutan proses negosiasi damai antara AS dan Iran diharapkan dapat berjalan kembali untuk meredakan ketegangan di pasar finansial.

"Kita lihat prospek negosiasi damai AS-Iran ke depan. Semoga tidak makin panas," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author