BPS Catat China Jepang dan Australia Jadi Negara Asal Impor Terbesar
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa China, Jepang, dan Australia menjadi tiga negara utama yang menyuplai impor terbesar ke Indonesia selama periode Januari hingga April 2026, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz.
"Tiga besar negara asal impor adalah Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan share sekitar 53,12% dari total impor non-migas Indonesia," kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam rilis BPS, Selasa (2/6/2026).
China kokoh memimpin sebagai pemasok komoditas non-migas paling dominan bagi pasar domestik sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Nilai pengapalan dari negara tirai bambu tersebut menyentuh angka US$30,79 miliar atau menyumbang 41,84% terhadap akumulasi impor non-migas nasional.
Pasokan barang dari China secara umum didominasi oleh kelompok mesin serta peralatan mekanis beserta bagiannya yang mencapai US$6,92 miliar, atau merepresentasikan 22,49% dari akumulasi impor asal China ke tanah air.
Selain itu, China mengirimkan pasokan mesin dan perlengkapan elektrik beserta komponennya dengan nilai sebesar US$6,75 miliar. Sementara untuk komoditas plastik dan produk turunannya tercatat berada di angka US$1,7 miar.
Jepang menempati peringkat kedua sebagai mitra impor non-migas terbesar Indonesia dengan total nilai transaksi menyentuh US$4,15 miliar atau memegang andil sebesar 5,64% terhadap total impor non-migas RI.
Produk utama yang didatangkan dari negeri sakura ini meliputi kategori mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya senilai US$846,28 juta, komoditas besi dan baja senilai US$559,82 juta, serta sektor kendaraan beserta komponen pendukungnya sebesar US$529,15 juta.
Sementara itu, Australia berada di posisi berikutnya sebagai negara asal impor non-migas terbesar bagi Indonesia dengan nilai transaksi yang mencapai US$4,15 miliar atau setara dengan kontribusi 5,64% dari total impor non-migas nasional.
Aktivitas impor dari negeri kanguru didominasi oleh sektor logam mulia dan perhiasan atau permata dengan nilai US$1,39 miliar, yang kemudian diikuti oleh komoditas serealia senilai US$507,48 juta serta pasokan bahan bakar mineral sebesar US$442,71 juta.