Frisian Flag Gandeng Akademisi Tingkatkan Kualitas Susu Sapi Lokal

Share

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bersinergi dengan akademisi dan puluhan ribu peternak lokal untuk meningkatkan standar kualitas serta keamanan produksi susu segar melalui penerapan praktik peternakan modern, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Minggu (31/5/2026).

Langkah strategis ini berfokus pada pemenuhan aspek kesehatan sapi, kebersihan lingkungan kandang, hingga kualitas pakan demi menghasilkan produk bernilai gizi tinggi. Penegasan mengenai pentingnya standardisasi sejak dari area peternakan dipaparkan dalam sebuah acara diskusi interaktif di Tangerang Selatan.

Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Ir Epi Taufik menerangkan bahwa rantai produksi yang bersih dan terawat menjadi fondasi utama dalam menghasilkan komoditas susu berkualitas sebelum masuk ke pabrik pengolahan.

"Agar susu berkualitas, bersih, dan higienis, diperlukan standar yang ketat. Kualitas susu sangat bergantung pada praktik peternakan, mulai dari kesehatan sapi, kecukupan pakan, hingga kebersihan lingkungan kandang," ujar Prof Epi, dalam acara 'Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti', Minggu (31/5/2026).

Penerapan standardisasi peternakan yang disiplin secara langsung akan berdampak pada kualitas kandungan nutrisi yang diterima oleh masyarakat luas.

"Dengan begitu, susu yang dihasilkan memiliki nilai gizi tinggi, jumlah bakteri rendah, dan aman untuk dikonsumsi," sambung Prof Epi.

Sistem pengawasan kualitas ini dijalankan secara menyeluruh dari hulu ke hilir dengan mengadopsi prinsip berkelanjutan yang menjaga kebersihan di setiap lini.

"Kalau di peternakannya susunya kotor, lingkungannya kotor, peternaknya tidak memperhatikan higiene dan sanitasi, pasti susunya jelek. Dan pasti tidak oleh FFI itu," kata Prof Epi.

Aspek higienitas menjadi prioritas mutlak karena produk akhir tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nutrisi harian masyarakat.

"Karena ini kan untuk minuman kita semua, gak mungkin sembarangan ya," tambah Prof Epi.

Kerja sama kerja yang erat antara pihak industri pengolahan dan mitra peternak dinilai menciptakan ekosistem usaha yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

"Nah itulah kenapa FFI kemudian juga, karena ini berarti kan symbiosis mutualisme ya, FFI juga membutuhkan susu yang berkualitas tinggi, peternak membutuhkan pasar yang membeli, maka saya tahu persis," jelas Prof Epi.

Keterlibatan kalangan kampus dalam memberikan edukasi terstruktur dipandang memberikan dampak positif bagi peningkatan kompetensi para peternak di lapangan.

"Dan saya kira itu juga poin bagus ya, bahwa FFI melibatkan akademisi, melibatkan kualitas dalam membina teman-teman kita ini. Supaya produknya, susunya, itu yang dihasilkan berkualitas tinggi dan aman," imbuh Prof Epi.

Upaya peningkatan kapasitas peternak lokal juga diwujudkan melalui pengiriman sejumlah perwakilan ke luar negeri guna mengadopsi sistem manajemen peternakan yang lebih maju.

"Ada peternak yang diberangkatkan ke Belanda untuk melihat langsung bagaimana peternakan di sana menghasilkan susu berkualitas. Ini menunjukkan komitmen FFI dalam membina peternak agar terus berkembang dan menghasilkan susu dengan standar tinggi," kata Prof Epi.

Pihak manajemen perusahaan menegaskan komitmen jangka panjang dalam mendukung ketersediaan gizi keluarga Indonesia melalui portofolio produk yang inklusif untuk seluruh rentang usia.

"Susu mengandung nutrisi makro dan mikro seperti protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang berperan mendukung perkembangan otak, menjaga daya tahan tubuh, serta membantu tubuh tetap kuat dan aktif di setiap tahapan kehidupan," ujar Marketing Director FFI Intan Ayu Kartika.

Saat ini, FFI mengelola pasokan bahan baku dari lebih 30 ribu peternak sapi perah lokal yang menyalurkan ratusan ton susu segar ke pusat produksi di Cikarang, Jawa Barat. Salah satu peternak perempuan, Rumini, berkesempatan mempelajari manajemen modern secara langsung selama dua pekan di Belanda.

"Kami belajar banyak dari sistem peternakan di Belanda. Beberapa praktik yang kami pelajari dapat diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pengelolaan peternakan dan produksi susu," ungkap Rumini.

Adanya pendampingan berkala dari perusahaan pengolahan membantu komunitas peternak lokal untuk mentransformasi sistem kerja tradisional mereka menjadi lebih efektif.

"Saya terima kasih banyak atas bimbingannya dari Frisian Flag, sehingga para peternak itu terus belajar dan berkembang. Melalui edukasi, pendampingan, kita dapat merasakan ya," jelas Rumini.

Rangkaian kegiatan edukasi dan hiburan ini diselenggarakan pada 29-31 Mei 2026 di Atrium BXC 2 Tangerang Selatan, dan dijadwalkan akan kembali digelar di Tunjungan Plaza, Surabaya pada 19-21 Juni 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author