Kinerja Ekspor Indonesia April 2026 Diproyeksikan Melonjak Sembilan Persen

Share

Pemulihan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia diproyeksikan terjadi pada periode April 2026. Konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan nilai ekspor melonjak hingga 9% secara tahunan, membalikkan arah dari kontraksi sebesar 3,1% pada periode sebelumnya.

Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, nilai impor hanya diperkirakan tumbuh moderat menjadi 2,98% dari angka sebelumnya sebesar 1,51%. Jika data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) besok sesuai konsensus, Indonesia berpotensi mencatatkan surplus perdagangan baru.

Surplus ini dapat menjadi tambahan bantalan bagi mata uang rupiah di tengah tingginya tekanan global. Dorongan ekspor komoditas alam seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara menjadi faktor utama karena harganya yang bertahan tinggi selama April.

Permintaan dari sejumlah mitra dagang utama di kawasan Asia juga mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang April turut mendongkrak daya saing produk ekspor nasional di pasar global.

Namun, proyeksi pertumbuhan impor yang moderat mengindikasikan pemulihan ekonomi domestik belum sekuat permintaan ekspor. Dalam struktur perdagangan, aktivitas impor menjadi cerminan langsung dari kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.

Sebagian besar impor Indonesia terdiri atas bahan baku, barang modal, serta komponen industri untuk proses produksi. Ketika pelaku usaha optimis terhadap prospek ekonomi, mereka biasanya memperluas kapasitas dan menambah investasi sehingga impor meningkat.

Sinyal pengetatan juga terlihat dari data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia pada April lalu. Optimisme kelompok ekonomi menengah-bawah dengan pengeluaran di bawah Rp5 juta per bulan tercatat mengalami penurunan.

IKK untuk segmen pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan turun tipis dari 114,7 menjadi 114,4. Sementara itu, segmen pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta per bulan juga melemah dari 118,8 ke angka 118,2.

Sektor ekspektasi kegiatan usaha turut menunjukkan indikasi serupa pada bulan April. Kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta hanya mencatatkan indeks pada level 112, mengalami penurunan dari capaian bulan Februari dan Maret.

Fluktuasi tinggi terjadi pada kelompok Rp2,1 juta hingga Rp3 juta yang sempat merosot di Maret, lalu naik ke 119,0 pada April. Sebaliknya, kelompok Rp3,1 juta hingga Rp4 juta turun cukup tajam dari angka 125 menjadi 118,4.

Kondisi ini menandakan pelaku usaha kecil dan sektor konsumsi mass market, seperti barang kebutuhan pokok atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG), mulai menghadapi tekanan permintaan produk.

Data impor yang moderat memicu kekhawatiran mengenai kekuatan mesin pertumbuhan domestik di tengah ketidakpastian global. Ekonomi yang sehat memerlukan keseimbangan antara tingginya permintaan luar negeri serta kuatnya aktivitas konsumsi dan investasi domestik.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bps ekonomi nasional ekspor impor
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author