Amerika Serikat Siap Lanjutkan Pertempuran Militer dengan Iran
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan kesiapan negaranya untuk melanjutkan pertempuran dengan Iran jika perundingan mengenai kepemilikan senjata nuklir menemui jalan buntu. Penegasan kesiapan militer ini disampaikan Hegseth dalam kunjungannya ke Singapura, dilansir dari Detikcom pada Minggu (31/5/2026).
"Kami fokus pada kesiapan dan persiapan untuk kembali terlibat jika perlu," kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat.
Langkah militer tersebut menjadi pilihan terakhir karena Presiden AS Donald Trump lebih memilih opsi damai. Hegseth menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah Amerika Serikat tetap konsisten, yakni memastikan Teheran tidak memproduksi senjata pemusnah massal.
"Target tersebut sama sekali tidak berubah," kata Pete Hegseth.
Menurut keterangan Hegseth, serangkaian dialog yang membawa hasil positif telah dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Pihak Amerika Serikat meyakini bahwa Iran telah memahami posisi dan konsekuensi dari arah pembicaraan tersebut.
"Saya pikir mereka tahu ke mana arahnya," ujar Pete Hegseth.
Ketegangan geopolitik juga mencakup perebutan kendali di jalur pelayaran strategis kawasan Timur Tengah. Hegseth menepis klaim sepihak dari Teheran mengenai dominasi di wilayah perairan tersebut.
"Mereka ingin mengatakan bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz, tetapi kitalah yang mengendalikannya," tambah Pete Hegseth.
Sebelumnya, dalam forum Dialog Shangri-La di Singapura, Hegseth menyebutkan Trump menunjukkan kesabaran demi memastikan klausul pakta perdamaian benar-benar menutup akses Iran terhadap senjata nuklir. Jika jalur diplomasi ini ditolak, opsi konfrontasi bersenjata akan terbuka.
"Jika Iran tidak ingin membuat kesepakatan besar yang memastikan mereka tidak mendapatkan senjata nuklir, mereka dapat berurusan dengan militer AS," kata Pete Hegseth.
Hegseth menegaskan kembali bahwa kapabilitas persenjataan yang dimiliki oleh militer Amerika Serikat saat ini sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan misi tersebut.
"Saya juga menambahkan bahwa persediaan senjata AS sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut," kata Pete Hegseth.
Di sisi lain, laporan AFP mengindikasikan bahwa Gedung Putih memberi sinyal Trump akan segera menetapkan keputusan final terkait kesepakatan ini, walaupun pihak Teheran membantah adanya draf akhir kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Sejumlah sumber AS menyebut kesepakatan itu kini hanya menunggu persetujuan Trump pascapertemuan Ruang Situasi Gedung Putih pada hari Jumat.
Sementara itu, kesiapan operasional pasukan di lapangan juga dipastikan tetap berjalan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi posisi taktis mereka melalui media sosial.
"pasukan Amerika 'tetap hadir dan waspada di seluruh wilayah.'" tulis Komando Pusat AS (CENTCOM) di platform X.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi berkala meskipun gencatan senjata sebagian besar telah bertahan sejak April lalu. Militer Iran melalui kantor berita negara IRNA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak pada hari Sabtu.
"milik musuh agresor Zionis-AS" sebut militer Iran melalui kantor berita IRNA.
Proses diplomasi paralel saat ini masih diupayakan untuk menghentikan pertempuran di Lebanon yang melibatkan pasukan Israel. Pihak Iran menegaskan gencatan senjata di Lebanon harus masuk dalam kesepakatan menyeluruh, bersamaan dengan pertemuan delegasi militer kedua negara di Pentagon pada hari Jumat.