Daisuke Sato Klarifikasi Sanksi Larangan Transfer Pemain Persib Bandung

Share

Mantan pemain Persib Bandung Daisuke Sato memberikan klarifikasi tertulis pada Sabtu (30/5/2026) setelah namanya dituding menjadi penyebab utama eks klubnya tersebut mendapatkan hukuman larangan transfer pemain dari FIFA.

Langkah ini diambil oleh sang pemain bertahan demi meluruskan simpang siur informasi yang berkembang di publik sepak bola nasional, seperti dilansir dari Bola.

"Saya ingin memberikan klarifikasi terkait perbincangan yang belakangan ini muncul mengenai larangan pendaftaran pemain yang dijatuhkan kepada Persib Bandung," ujar Sato dalam akun Instagramnya, @daisukesato, Sabtu (30/5/2026).

Pemain asing berusia 31 tahun tersebut menegaskan bahwa permasalahan ini bukan hal baru melainkan buntut dari sengketa pemutusan kerja sama sepihak yang terjadi pada akhir tahun 2023 lalu.

"Masalah ini bukan merupakan hasil dari laporan baru ataupun tindakan terbaru dari pihak saya. Perkara ini berkaitan dengan sengketa kontrak antara Persib Bandung dan saya, Daisuke Caumanday Sato, setelah kontrak saya diakhiri pada tahun 2023," jelas Sato.

Sengketa tersebut bergulir ke ranah hukum olahraga internasional karena sang pemain merasa perlu memperjuangkan hak-hak profesionalnya setelah kontraknya diputus pada pertengahan musim kompetisi.

"Sejat sejak awal, saya berusaha menangani situasi ini secara profesional dan melalui jalur yang semestinya. Namun, karena cara situasi kontraktual saya ditangani saat itu serta kondisi yang saya hadapi, saya tidak memiliki pilihan yang wajar selain melindungi hak-hak saya melalui proses hukum," tutur Sato.

Manajemen Persib Bandung sempat mengajukan keberatan dalam proses persidangan, namun otoritas hukum sepak bola yang memeriksa perkara akhirnya tetap memenangkan kubu pemain berkebangsaan Filipina tersebut.

"Kasus ini kemudian diperiksa oleh otoritas sepak bola dan lembaga hukum yang berwenang. Persib Bandung memilih untuk menggugat atau mengajukan keberatan atas perkara ini melalui prosedur yang tersedia. Setelah seluruh tahapan proses selesai dijalani, keputusan yang dihasilkan menguatkan posisi saya," ungkap Sato.

Kasus pemutusan kontrak ini berjalan hingga ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang pada Maret 2026 resmi menolak keberatan dari pihak manajemen Maung Bandung.

"Persib meminta agar putusan tersebut tidak dipublikasikan dengan mencantumkan nama pemain dan klub, dengan alasan adanya kekhawatiran terkait kehormatan dan reputasi. Kami menolak permintaan tersebut karena kami meyakini bahwa perkara ini seharusnya ditangani secara transparan," tutur Sato.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa hukuman dari badan sepak bola dunia saat ini muncul murni karena adanya kewajiban finansial yang belum diselesaikan oleh pihak klub sesuai tenggat waktu.

"Oleh karena itu, larangan pendaftaran pemain yang saat ini dijatuhkan oleh FIFA bukanlah karena saya baru melaporkan klub sekarang. Sanksi tersebut merupakan konsekuensi dari kegagalan untuk mematuhi putusan akhir dalam batas waktu yang telah ditentukan," ungkap Sato.

Sato menyatakan hubungan baiknya dengan kelompok suporter Bobotoh maupun jajaran institusi klub sama sekali tidak terganggu oleh jalannya persidangan ini.

"Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah memiliki masalah dengan para pendukung Persib maupun dengan klub sebagai sebuah institusi. Saya selalu menghormati Persib, sejarahnya, rekan-rekan setim saya, serta sepak bola Indonesia. Proses ini tidak pernah bersifat pribadi dan tidak pernah dimaksudkan untuk merugikan klub maupun para pendukungnya. Tujuan saya semata-mata adalah melindungi hak-hak profesional saya dan memastikan bahwa keputusan yang telah ditetapkan dihormati sebagaimana mestinya," tulis Sato.

Ia meminta seluruh pencinta sepak bola nasional melihat duduk perkara secara objektif lewat lini masa kronologi yang utuh sebelum melayangkan kritik sepihak kepada dirinya.

"Saya dengan hormat meminta kepada publik dan para pendukung untuk memahami kronologi lengkap dari permasalahan ini sebelum memberikan penilaian atau mengarahkan kritik kepada saya," terang Sato.

Menutup penjelasannya, Sato mengapresiasi kinerja tim hukum yang mengawal kasusnya dan menegaskan rasa cintanya terhadap atmosfer sepak bola di Indonesia tetap terjaga.

"Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya selama tiga tahun terakhir, khususnya tim hukum saya, Pedro Macieirinha dan JMPM – Sociedade de Advogados, yang telah mendampingi saya sejak awal proses ini berlangsung," kata Sato.

"Saya tetap bersyukur atas waktu yang saya habiskan di Indonesia dan akan terus menghormati Persib Bandung, Bobotoh, serta sepak bola Indonesia," ucapnya menutup.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author