Badan Gizi Nasional Hentikan Paket Bundling Makan Bergizi Gratis
Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mengubah skema penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menghapus sistem paket bundling yang sebelumnya berlaku saat libur sekolah tengah pekan, seperti dilansir dari Detikcom pada Jumat (29/5/2026).
Langkah penataan ulang ini diambil guna menyelaraskan distribusi makanan dengan hari aktif belajar para siswa di sekolah sekaligus mendukung kebijakan efisiensi anggaran negara.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, mengonfirmasi bahwa penyaluran makanan kini hanya akan dilakukan sewaktu murid berada di lingkungan sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Kalau sebelumnya ada bundling, misalnya hari Rabu dan Kamis libur, maka hari Selasa makanan untuk hari libur ikut dibagikan dalam bentuk paket bawaan. Nah sekarang sudah tidak lagi," jelas Sony Sonjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.
Kebijakan penyesuaian pola distribusi ini sengaja diterapkan agar anggaran negara dapat digunakan secara lebih hemat dan terukur.
"Konsepnya adalah MBG diberikan pada saat siswa ada di sekolah. Jadi kalau siswanya libur atau ada kegiatan di luar sekolah, maka tidak diberikan MBG," ucap Sony Sonjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.
Melalui penerapan regulasi baru tersebut, tata kelola pembagian paket MBG diharapkan bisa berlangsung secara lebih efektif, tepat sasaran, serta sesuai dengan kondisi riil kebutuhan para penerima manfaat di lapangan.
Program strategis ini sendiri disokong oleh pagu anggaran resmi BGN dalam APBN 2026 yang mencapai Rp 268 triliun untuk mendanai operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan data pelaporan BGN sampai tanggal 24 Mei 2026, program pemenuhan gizi ini telah menjangkau sekitar 62,4 juta penerima manfaat melalui pengelolaan 29.225 SPPG.
Manajemen BGN memastikan perbaikan sistem dan efisiensi ini tidak akan menurunkan kualitas pelayanan, melainkan memperkuat keberlanjutan program secara jangka panjang.
"Prinsip utama kami adalah memastikan pelayanan kepada penerima manfaat tetap optimal. Efisiensi bukan berarti mengurangi komitmen pemerintah terhadap program MBG, tetapi memperkuat efektivitas pelaksanaannya agar manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan," tutur Nanik S Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.