Fosil Megapiranha Ungkap Evolusi dan Kehebatan Gigitan Ikan Purba
Kawasan Amerika Selatan menyimpan jejak sejarah keberadaan ikan predator purba dengan daya gigit luar biasa. Wilayah sungai tersebut dahulu menjadi habitat bagi Megapiranha paranensis, spesies piranha raksasa yang hidup sekitar 8–10 juta tahun lalu, dilansir dari Detik iNET.
Hasil penelitian awal sempat memperkirakan panjang tubuhnya melebihi 1 meter. Namun, estimasi terbaru menunjukkan spesies ini memiliki panjang sekitar 70 sentimeter dengan bobot berkisar 10 kilogram.
Daya tarik utama ikan purba ini terletak pada kekuatan rahangnya. Simulasi ilmiah mencatat kekuatan gigitan megapiranha berada di rentang 1.240 hingga 4.749 newton, daya yang tergolong cukup kuat untuk menghancurkan struktur tulang.
Jejak keberadaan megapiranha bermula dari penemuan potongan fosil rahang atas di Formasi Paraná, Argentina, pada awal 1900-an. Fosil ini kemudian diteliti oleh paleontolog Alberto Cione dari La Plata Museum pada 1980-an sebelum akhirnya dideskripsikan sebagai spesies baru pada 2009.
Fosil rahang atas yang ditemukan memuat tiga gigi berukuran besar dalam susunan yang unik. Para peneliti memperkirakan rahang utuh megapiranha memiliki sekitar tujuh gigi.
Susunan gigi tersebut menjadi bukti penting dalam menelusuri rantai evolusi kelompok piranha. Piranha modern memiliki satu baris gigi, sedangkan kerabatnya seperti ikan pacu yang memakan tumbuhan memiliki dua baris gigi. Megapiranha berada di posisi transisi di antara kedua pola tersebut.
"Pada piranha modern, giginya tersusun dalam satu baris. Namun, pada kerabat piranha-yang cenderung merupakan ikan herbivora-giginya tersusun dalam dua baris," kata Wasila Dahdul, ilmuwan tamu di National Evolutionary Synthesis Center, dikutip dari IFL Science.
"Hampir terlihat seperti giginya berpindah dari baris kedua ke baris pertama," ujar John Lundberg, salah satu penulis penelitian tersebut.
Simulasi Biomekanika Kekuatan Rahang
Upaya menghitung kemampuan gigitan megapiranha dilakukan pada 2012 melalui metode pemodelan. Ilmuwan menggabungkan data biomekanika dari black piranha (Serrasalmus rhombeus) yang masih hidup dengan rekonstruksi struktur rahang megapiranha.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pada batas paling konservatif, kekuatan gigitan predator 10 kilogram ini sebanding dengan hiu putih besar seberat 400 kilogram. Saat spesifikasi mekanika rahang dimasukkan secara lebih rinci, kekuatannya bahkan setara dengan hiu putih besar seberat 3.000 kilogram.
Kemampuan rahang yang efisien ini tetap diwarisi oleh piranha modern. Black piranha tercatat menghasilkan gaya gigitan sebesar 320 newton. Proporsi otot rahang yang mencapai lebih dari 2% total berat tubuhnya membuat gigitan piranha modern tiga kali lebih kuat dibandingkan aligator Amerika dengan ukuran setara.
Temuan fosil rahang dari Argentina ini membuktikan bahwa faktor ukuran tubuh bukanlah satu-satunya penentu besarnya kekuatan gigitan seekor predator.