Dosen UC Desak Pengembalian Ujian SAT Setelah Kemampuan Matematika Mahasiswa Anjlok
Ribuan dosen di 10 kampus University of California menandatangani surat terbuka yang mendesak pengembalian tes terstandar Scholastic Assessment Test dan American College Testing dalam penerimaan mahasiswa baru. Desakan ini muncul setelah pengajar menghadapi penurunan drastis kemampuan matematika dasar mahasiswa.
Dosen Matematika UC Berkeley Zvezdelina Stankova mengungkapkan bahwa sejumlah mahasiswa bahkan tertinggal hingga lima sampai delapan tahun dalam penguasaan materi matematika. Kondisi tersebut memaksa tenaga pengajar memberikan materi tingkat sekolah menengah pertama saat jam perkuliahan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP," kata Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Masalah penurunan akademik ini tercatat dialami oleh berbagai kampus di lingkungan University of California. Berdasarkan laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions UC San Diego edisi 8 Januari 2026, sebanyak 70 persen mahasiswa di kampus tersebut memiliki kemampuan matematika di bawah tingkat SMP sepanjang periode 2020 hingga 2025.
"Selama lima tahun terakhir, UC San Diego mengalami penurunan tajam dalam kesiapan akademis mahasiswa baru-terutama dalam matematika, tetapi juga dalam keterampilan menulis dan berbahasa. Antara tahun 2020 dan 2025, jumlah mahasiswa yang kemampuan matematikanya di bawah tingkat sekolah menengah atas meningkat hampir tiga puluh kali lipat," tulis laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions UC San Diego.
Kondisi keterbelakangan pemahaman tersebut dinilai mencakup sebagian besar kelompok mahasiswa baru di universitas.
"Terlebih lagi, 70% dari mahasiswa tersebut berada di bawah tingkat sekolah menengah pertama, mencapai sekitar 1 dari 12 anggota kelompok mahasiswa baru," sambung laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions UC San Diego.
Penghapusan syarat ujian SAT dan ACT diberlakukan secara bertahap sejak pandemi COVID-19 demi kesetaraan. Kebijakan ini membuat staf penerimaan dilarang mempertimbangkan hasil tes terstandar, padahal universitas terkemuka lain seperti MIT, Stanford, Harvard, dan Yale telah memberlakukannya kembali.
"Ini bukan cuma cerita satu profesor atau masalah satu kampus," ujar Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Peninjauan kebijakan penerimaan mahasiswa di lingkungan University of California saat ini diperkirakan baru selesai pada Juni 2027, sehingga aturan baru paling cepat diterapkan pada musim gugur 2028.
"MIT, Stanford, Harvard, dan Yale, semuanya menangguhkan persyaratan hasil tes terstandar selama pandemi. Semuanya telah memberlakukannya kembali. Di seluruh Ivy League, perubahan serupa sedang terjadi. UC sedang bergerak sebaliknya," tulis Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Kelambatan evaluasi kebijakan tersebut dinilai merugikan para calon mahasiswa yang membutuhkan kepastian sistem penerimaan selektif.
"Senat Akademik sekarang merencanakan peninjauan yang akan selesai pada Juni 2027, yang berarti tidak ada kebijakan penerimaan baru yang dapat berlaku sebelum musim gugur 2028.Mahasiswa tidak punya waktu sebanyak itu: mereka hanya kuliah sekali!," sesal Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Data diagnostik Kalkulus I di UC Berkeley menunjukkan bahwa pada 2018–2020 sebanyak 71 persen dari 2.200 mahasiswa dinyatakan siap. Angka kesiapan tersebut merosot menjadi 51 persen pada 2021–2023, dan berlanjut turun hingga 44 persen pada 2023.
" Hanya 0,14% yang diuji berada di bawah tingkat aljabar dasar," ungkap Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Penurunan tingkat kemahiran matematika tersebut berdampak langsung pada hasil ujian para mahasiswa di kelas.
"17 persen siswa tidak menjawab satu pun dari delapan topik diagnostik dengan benar. Pada tahun 2022-2023, lebih dari sepertiga siswa mengalami kekurangan pemahaman akan matematika yang parah, dan nilai yang paling umum pada ujian tersebut adalah nol," ujar Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Para pengajar kini harus membagi fokus untuk mengajar mahasiswa yang siap dan belum siap dalam satu ruang kuliah yang sama.
"Kami menyaksikan mahasiswa berjuang memahami materi yang seharusnya sudah mereka kuasai bertahun-tahun sebelumnya. Kami menghentikan kuliah sejenak untuk mengulang pengajaran persamaan linear, alih-alih memperluas pemahaman mahasiswa tentang persamaan diferensial," tulis Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.
Dosen pengajar menegaskan bahwa tantangan nyata di ruang kelas sering kali diabaikan oleh para pembuat kebijakan akademik.
"Orang-orang yang memperdebatkan kebijakan ini di TV, dalam rapat komite, dan dalam politik, tanpa mempertimbangkan nilai ujian mahasiswa, tidak berdiri di depan 700 mahasiswa tiga kali seminggu atau memberi nilai ujian tengah semester pertama dengan rata-rata D/F. Kami yang menghadapi mereka," imbuh Stankova, Dosen Matematika University of California Berkeley.