Michelle Olarinde Jalani Kehamilan Abdominal dan Bayinya Diselamatkan di Nigeria
Michelle Olarinde, perempuan asal Nigeria, menjalani kehamilan langka dengan janin tumbuh di luar rahim, kondisi yang memerlukan perawatan khusus dan pengawasan ketat oleh tim medis di Lagos University Teaching Hospital, dilansir dari HaiBunda.
Kehamilan yang dimulai pada November 2025 tersebut terdeteksi melalui tes darah setelah dua kali USG gagal menunjukkan janin dalam rahim. Setelah pemeriksaan USG mendetail, diketahui janin tumbuh di perut dengan usia kehamilan mencapai 20 minggu.
Olarinde dirawat sejak 8 April 2026 dengan pemantauan ketat oleh tim multidisiplin. Dokter menilai risiko kehamilan abdominal sangat tinggi sehingga setiap perkembangan kondisinya dievaluasi secara berkala.
"Mereka bilang jika ada bahaya pada usia kehamilan 24 minggu, mereka akan menggugurkan kandungan untuk menyelamatkan nyawa saya. Ketika saya mencapai usia kehamilan 24 minggu, tidak ada bahaya, jadi mereka terus memantau," ujar Olarinde.
Dia melanjutkan pemantauan hingga usia kehamilan 34 minggu ketika rasa sakit hebat akibat gerakan janin memaksanya menjalani operasi.
"Pada usia kehamilan 27 minggu, mereka bilang jika ada bahaya, mereka akan menggugurkan bayi dan menempatkannya di inkubator. Tidak terjadi apa-apa. Pada usia kehamilan 30 minggu, saya masih kuat.
Pada usia kehamilan 32 minggu, sama saja. Kemudian, pada usia kehamilan 34 minggu, setiap kali bayi bergerak, saya mulai merasakan sakit yang hebat dan saya dilarikan ke ruang operasi," ujar Olarinde.
Meski risiko tinggi, Olarinde yakin dengan tujuan Tuhan dalam kehamilannya dan tetap optimistis.
"Saya ingat melihat banyak dokter, konsultan, dan perawat yang hadir sepenuhnya. Bahkan dokter yang tidak saya kenal pun datang sebelum operasi. Itu memberi saya kegembiraan dan kepercayaan diri," kata Olarinde.
"Ketika saya mendengar bayi saya menangis setelah operasi, saya hanya berkata, 'Terima kasih, Tuhan. Kita berhasil'," ujarnya.
Kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik merupakan kondisi di mana sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya di tuba falopi, dan dapat berisiko mengancam nyawa ibu dan janin jika tidak ditangani dengan tepat.
Kehamilan abdominal adalah bentuk kehamilan ektopik yang sangat langka dan berbahaya karena plasenta menempel pada organ dan pembuluh darah yang tidak dirancang untuk mendukung kehamilan. Angka kematian janin pada kondisi ini dilaporkan antara 40 hingga 90 persen, menjadikan keberhasilan persalinan sangat jarang terjadi.