Pasar Keuangan Indonesia dan Global Terkoreksi Jelang Pidato Presiden Prabowo
Pasar keuangan Indonesia dan global mengalami pergerakan yang beragam pada Jumat (14/8/2026), menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto di sidang tahunan MPR dan penyampaian nota keuangan RAPBN 2027 di Gedung DPR RI.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (13/8) ditutup melemah 72,08 poin atau 1,13% ke level 6.301,77, terdorong oleh pengumuman rebalancing indeks MSCI yang mengeluarkan saham GOTO dan menurunkan kelas CPIN. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.050 triliun dengan nilai transaksi mencapai Rp13,61 triliun.
Mayoritas saham mengalami tekanan jual, dengan 474 saham melemah, 186 saham menguat, dan 303 saham stagnan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyumbang tekanan terbesar pada IHSG dengan kontribusi negatif 7,48 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 7,14 poin.
Di sisi lain, mata uang rupiah berhasil menguat tipis 0,03% ke posisi Rp17.860 per dolar AS, memutus tren pelemahan selama dua hari sebelumnya, sementara Surat Berharga Negara (SBN) juga menunjukkan penguatan.
Pasar saham Amerika Serikat mengalami penguatan dengan Indeks S&P 500 menembus rekor tertinggi intraday baru di level 7.800, didorong oleh data inflasi produsen AS yang melandai serta penurunan harga minyak mentah Brent dan WTI lebih dari 2%.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli menunjukkan tidak ada perubahan secara bulanan (0%), lebih rendah dari perkiraan kenaikan 0,2%. Secara tahunan, inflasi produsen turun menjadi 4,7% dari 5,5%. Data ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga dari tingkat produsen mulai mereda.
Klaim awal tunjangan pengangguran AS meningkat menjadi 209.000 pekan yang berakhir 8 Agustus, lebih tinggi dari perkiraan 202.000, namun klaim lanjutan turun menjadi 1,777 juta, memberi gambaran pasar tenaga kerja yang relatif stabil.
Pasar juga menantikan data penjualan ritel AS periode Juli yang akan diumumkan malam ini, dengan proyeksi pertumbuhan melambat menjadi 0,1% secara bulanan. Data ini penting sebagai indikator konsumsi yang memengaruhi produk domestik bruto AS.
Dari Eropa, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi Zona Euro kuartal II diperkirakan mencapai 0,4% secara kuartalan dan 1% secara tahunan, menunjukkan tanda pemulihan ekonomi kawasan setelah stagnasi pada kuartal I.