Donald Trump Tanda Tangan Perintah Pengurangan Vaksinasi Anak

Share

Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah resmi yang menginstruksikan pengurangan jumlah total vaksinasi untuk anak-anak pada Senin (11/8), serta menyarankan agar vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) diberikan terpisah, sebagaimana dilansir dari Detik Health. "Kita menguranginya," kata Trump. Pengurangan jadwal dan frekuensi imunisasi rutin tersebut disampaikan secara langsung oleh Trump di Ruang Oval, Gedung Putih.

"Bukan hanya mengurangi jumlah vaksin yang diberikan, atau suntikan, seperti yang mereka sebut, tetapi juga memberikannya dalam serangkaian kunjungan ke dokter," ujar Trump.

Langkah ini diambil kendati berbagai studi medis tidak menemukan keterkaitan antara vaksinasi dan autisme, meskipun Trump berulang kali melontarkan klaim meragukan terkait keamanan imunisasi. "Beberapa dekade lalu, anak-anak hanya menerima sebagian kecil dari vaksin yang dibutuhkan saat ini," kata Trump.

Trump beralasan bahwa pemisahan jadwal suntikan bertujuan agar tubuh anak-anak tidak menerima terlalu banyak vaksin dalam satu waktu. "Pada masa itu, orang-orang jauh lebih sehat dan tentu saja tingkat autisme yang tinggi seperti yang kita lihat sekarang tidak ada," ujar Trump.

Saat didesak mengenai dasar keputusannya, Trump mengeklaim telah menerapkan metode jeda tersebut pada anak-anak dan tidak menemukan kendala. "Tidak ada hal buruk yang akan terjadi dari apa yang kita lakukan," kata Trump. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peringatan para ahli medis bahwa perubahan aturan imunisasi dapat melonggarkan perlindungan kesehatan anak.

"Tidak ada hal buruk yang akan terjadi," ujar Trump.

Penetapan kebijakan baru ini menuai penolakan keras dari kalangan legislator, termasuk Senator Partai Republik Bill Cassidy yang menilai presiden tidak memiliki kewenangan medis untuk mengubah panduan imunisasi. "Vaksin sebagian besar aman. Vaksin efektif.

Vaksin TIDAK menyebabkan autisme," kata Cassidy. Cassidy menegaskan bahwa memecah jadwal pemberian vaksin justru berpotensi membahayakan keselamatan kesehatan anak-anak.

"Memecah vaksin berarti anak-anak harus mendapatkan lebih banyak suntikan untuk mendapatkan perlindungan yang sama, bukan lebih sedikit suntikan. Ini akan meningkatkan keraguan dan membuat anak-anak kurang aman," ujar Cassidy.

Di bawah panduan baru ini, pemerintah merekomendasikan vaksin campak, gondongan, rubella, difteri, tetanus, pertusis, polio, Hib, penyakit pneumokokus, HPV, serta varisela secara rutin untuk semua anak. Sementara itu, antibodi Respiratory Syncytial Virus (RSV) serta vaksin hepatitis B, meningokokus B, meningokokus ACWY, dan demam berdarah kini hanya diprioritaskan bagi populasi berisiko tinggi.

Pemerintah juga mengalihkan sejumlah imunisasi seperti rotavirus, penyakit meningokokus, influenza, Covid-19, dan hepatitis B ke mekanisme keputusan bersama antara orang tua dan dokter. Trump menegaskan kembali alasannya dalam memberikan jeda waktu pada setiap kunjungan medis.

"Sederhananya: Sejumlah besar vaksin, sejumlah besar-seperti wadah besar, vaksin saat ini dipompa ke dalam tubuh anak Anda," kata Trump. Ia menyebut pembagian dosis menjadi 20 persen per kunjungan bertujuan agar tubuh anak mampu memproses cairan vaksin tersebut. "Kami melakukan 20% dari itu pada setiap kunjungan, dan kami akan memberi jeda waktu antara kunjungan agar tubuh dapat menangani sejumlah besar cairan yang dipompa masuk," ujar Trump.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author