Jose Mourinho Ungkap Kisah Man Utd dan Kritik Sabbatical

Share

Pelatih Real Madrid Jose Mourinho membeberkan sejumlah fakta mengejutkan mengenai perjalanan kariernya melalui serial dokumenter Netflix, termasuk kegagalan menjadi suksesor Sir Alex Ferguson di Manchester United pada 2013 serta pandangannya terkait jeda kepelatihan.

Mourinho mengungkapkan bahwa dirinya sempat menandatangani kesepakatan untuk bergabung dengan Manchester United usai meninggalkan Real Madrid pada periode pertamanya. Namun, ia memutuskan membatalkan rencana tersebut demi kembali melatih Chelsea.

"Ketika saya meninggalkan Real Madrid, saya sudah menandatangani kontrak untuk pergi ke Manchester United menggantikan Sir Alex," kata Mourinho.

Mantan manajer Manchester United Sir Alex Ferguson membenarkan bahwa Mourinho sempat menerima penawaran tersebut sebelum akhirnya mengubah keputusan dalam hitungan jam setelah berkomunikasi langsung dengannya.

"Suatu malam, dia menelepon saya dan dia menangis dan berkata: 'Alex, saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah memberikan janji saya kepada Chelsea dan saya tidak akan mengingkari janji saya.' Alasan yang dia berikan kepada saya bisa saya pahami, tetapi saya kecewa," ujar Ferguson.

Mourinho menegaskan keputusannya diambil berdasarkan komitmen emosional yang telah dibuat bersama pihak Chelsea.

"Satu hal adalah cinta untuk sepak bola, hal lainnya adalah cinta untuk sebuah klub tertentu," tutur Mourinho.

"Menurut saya ini lebih kuat daripada cinta untuk sepak bola dan pada dasarnya, setelah Real Madrid, saya perlu merasa bahwa saya dicintai. Bagi saya, kehilangan kesempatan untuk menjadi pelatih penerus Sir Alex Ferguson sangatlah dramatis, tetapi saya tidak menyesalinya karena itu adalah keputusan yang saya buat dengan hati saya," lanjut Mourinho.

Selain kisah kepindahannya ke Inggris, dokumenter tersebut mengulas dinamika keretakan hubungan antara Mourinho dan kiper legendaris Real Madrid, Iker Casillas, yang berdampak pada keharmonisan ruang ganti tim.

Casillas menilai perselisihan yang terjadi saat itu membuat ketegangan di dalam skuad mencapai titik tertinggi hingga hubungan antar personal tidak dapat dipulihkan.

"Hubungan antara saya dan Jose sangat dingin," ucap Casillas.

"Pada tahun-tahun itu, saya benar-benar merasa segalanya dibawa ke batas di mana, pada akhirnya, tali itu putus," tambah Casillas.

Mantan pemain Real Madrid Sami Khedira mengonfirmasi bahwa perseteruan tersebut memicu perpecahan di antara para pemain bintang di ruang ganti.

"Ruang ganti benar-benar seperti mimpi buruk, sejujurnya. Setelah itu, hubungan antara Jose dan banyak, banyak pemain menjadi rusak – seperti Cristiano [Ronaldo] dan para pemain Spanyol, Casillas, Sergio Ramos. Dan para pemain itu sangat, sangat penting bagi suasana tim," kata Khedira.

Mourinho menilai tindakannya mengambil keputusan tegas didasari oleh sikap para pemain senior yang dianggapnya terlalu dimanja.

"Tiga kali pertama saya berbicara dengan Casillas, sang kapten, hal pertama yang ia katakan kepada saya adalah, 'Saya ingin meminta lebih banyak liburan untuk para pemain tim nasional'," kata Mourinho.

"Kali kedua ia berbicara dengan saya, 'Saya ingin meminta Anda memajukan sesi latihan satu jam lebih lambat karena pada waktu yang Anda inginkan untuk latihan, lalu lintas di Madrid sangat padat'. Kali ketiga ia datang berbicara dengan saya, 'Kami tidak mau pergi ke hotel. Kami lebih suka hanya berkumpul pada hari pertandingan dan langsung menuju stadion untuk bermain'. Dan dalam waktu singkat, saya menyadari mereka manja," tegas Mourinho.

Mourinho juga menyinggung ketegangannya dengan Casillas terkait keakraban sang kiper dengan para pemain Barcelona saat berada di tim nasional Spanyol.

"Ada hal-hal yang tidak saya terima dan tidak akan pernah saya terima, dan ketika seseorang tidak menghormati saya, itu masalah. Saya bilang, ini Barcelona, ini Real Madrid. Ketika kalian pergi ke tim nasional, kalian boleh mencium orang itu, tapi tidak sekarang. Ini perang," ujar Mourinho.

Penolakan terhadap Sabbatical

Pelatih berusia 63 tahun itu turut menegaskan komitmennya untuk terus melatih dan menolak gagasan mengambil waktu istirahat atau sabbatical dari dunia sepak bola.

"Saya bahkan tidak bisa membayangkan kapan saya akan berhenti terlibat dalam sepak bola. Saya mengatakan 10 tahun lagi, tetapi mungkin lebih dari 10 tahun. Ini menyenangkan," tutur Mourinho.

Mourinho menyampaikan alasannya untuk terus mengejar gelar juara di berbagai klub.

"Saya ingin memenangkan lebih banyak gelar. Saya ingin melakukannya di tempat-tempat yang belum pernah saya datangi dan di tempat-tempat yang sudah pernah saya menangkan," kata Mourinho.

Atmosfer pertandingan di hadapan puluhan ribu penonton disebutnya sebagai lingkungan utama yang dibutuhkannya.

"Dunia saya adalah masuk ke stadion sepak bola dengan 50.000 atau 90.000 suporter. Saya pernah merasakan 100.000 suporter. Itulah dunia saya," ucap Mourinho.

Mourinho menegaskan bahwa keberadaan di dunia sepak bola bukanlah bentuk obsesi pribadi.

"Tanpa sepak bola, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Namun, saya tidak berpikir ini sebuah obsesi. Saya tidak merasa ini sebuah obsesi," lanjut Mourinho.

Mourinho juga merasa bahwa berada di level tertinggi membuat seorang pelatih enggan meninggalkannya.

"Ketika Anda mencapai level tertentu, Anda hanya ingin berada di sana selamanya," ujar Mourinho.

Terkilah istilah rehat, Mourinho menyatakan kebiasaan mengambil masa istirahat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kerjanya.

"Beberapa orang memang butuh istirahat," kata Mourinho.

"Beberapa orang membutuhkan sabbatical, sesuatu yang saya benci. Saya benci kata itu," tambah Mourinho.

Mourinho menyebut keputusan menepi dari lapangan sebagai wujud dari kelemahan seorang profesional.

"Bagi saya, istirahat itu merupakan sebuah tanda kelemahan, sesuatu yang saya benci. Saya benci kata itu. Jadi jangan bicara kepada saya tentang hal itu lagi," tegas Mourinho.

Mourinho kembali menggarisbawahi kepercayaannya mengenai masa rehat dalam karier kepelatihan.

"Bagi saya, sabbatical berarti kelemahan. Jangan bicara kepada saya soal sabbatical. Saya tidak pernah membutuhkan istirahat. Saya akan beristirahat ketika saya meninggal," pungkas Mourinho.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author