Anak Empat Tahun di Skotlandia Mengalami Stroke Akibat Cacar Air
Seorang anak perempuan berusia empat tahun di Skotlandia menderita stroke akibat peradangan arteri otak yang diduga dipicu oleh infeksi cacar air pada Desember 2024, sebagaimana dilansir dari Detik Health. Korban mulai menunjukkan gejala gangguan saraf pada Juni 2025 sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Gejala awal bermula saat Olivia terbangun dalam kondisi muntah serta mengeluh sakit kepala. Ibunya, Rebecca, sempat mengira putrinya hanya mengalami sakit ringan biasa sehingga Olivia cukup beristirahat di rumah tanpa penanganan medis awal.
Kepanikan mulai timbul ketika balita kidal tersebut tidak mampu duduk tegak di sofa dan terus terjatuh ke sisi kiri tubuhnya. Saat diajak bermain anak panah oleh orang tuanya, Olivia sama sekali tidak dapat menangkap benda tersebut menggunakan tangan kirinya. Kondisi ini sempat dikira berkaitan dengan riwayat cerebral palsy ringan yang diidapnya sejak bayi akibat lahir prematur sembilan minggu lebih awal.
sesua saran dari spesialis cedera otak, keluarga membawa Olivia ke ruang gawat darurat Rumah Sakit St John di Livingston. Saat bertemu dokter, bicara Olivia mulai terbata-bata dan salah satu sisi wajahnya mengendur, hingga ia dirujuk ke Rumah Sakit Anak Royal Edinburgh.
Hasil pemeriksaan CT scan, MRI, serta tes darah mengonfirmasi terjadinya stroke akibat peradangan pada salah satu arteri utama pembawa darah ke leher dan otak. Penyakit cacar air yang dialami Olivia beberapa bulan sebelumnya diidentifikasi sebagai pemicu spesialis peradangan tersebut, yang mengakibatkan kelumpuhan total pada sisi kiri tubuhnya.
"Bisakah kamu meraih tangan Ibu? Dia tidak bisa melakukannya," kata Rebecca.
Tim medis menegaskan bahwa serangan stroke ini tidak berhubungan langsung dengan cerebral palsy yang diidap Olivia. Meskipun demikian, riwayat kerusakan otak sebelumnya diakui membuat proses rehabilitasi fisik menjadi lebih menantang bagi tim medis dan keluarga.
"Wajahnya sangat lesu. Itu sangat menyayat hati. Dia tidak bisa makan atau berbicara," kata Rebecca.
Proses penanganan medis intensif dilakukan oleh dokter untuk menghentikan dampak kerusakan saraf lebih lanjut. Diagnosa pasti didapatkan setelah investigasi menyeluruh terhadap arteri utama pasien dilakukan.
"Hal yang paling memilukan bagi saya adalah melihatnya. Dia sama sekali tidak terlihat seperti Olivia," kata Rebecca.
Setelah menjalani perawatan antibiotik dan fisioterapi intensif, kondisi fisik anak tersebut berangsur membaik. Olivia menjalani masa rawat inap selama delapan minggu di rumah sakit terhitung sejak 29 Juni hingga 11 Agustus 2025.
"Saya tidak menyangka anak semuda empat tahun bisa terkena stroke," kata Rebecca.
Beberapa hari pasca keluar dari rumah sakit, Olivia langsung memulai kegiatan sekolahnya. Memasuki usia lima tahun, ia sudah mampu berjalan sendiri saat berada di rumah dan mengandalkan alat bantu jalan selama beraktivitas di lingkungan sekolah.
"Karena dia sudah terbiasa dengan fisioterapi dan kunjungan ke rumah sakit, proses pemulihannya berjalan sangat alami," kata Rebecca.
Kini proses pemulihan fisik Olivia terus dipantau secara berkala oleh tim medis rumah sakit.
"Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya menjalaninya. Dia anak yang tangguh. Dia anak yang sangat ceria," kata Rebecca.