Pemkot Surabaya Tindaklanjuti Dugaan Eksploitasi Anak oleh Mantan Suami
Seorang ibu di Surabaya, Agustin Arimardika (33), melaporkan dugaan eksploitasi terhadap putrinya berinisial A (5) yang dibawa oleh mantan suaminya, Sunardi. Kasus ini menarik perhatian publik dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Agustin mengaku terakhir kali bertemu putrinya pada awal Maret 2026 sebelum dibawa oleh mantan suaminya. Ia menyebut anaknya tidak bersekolah dan diduga hidup berpindah-pindah bersama ayahnya, bahkan disebut beberapa warga mengemis di beberapa lokasi di Surabaya, dilansir dari Detikcom.
Agustin menjelaskan bahwa ia bercerai dengan Sunardi sejak 2024 karena kekerasan dalam rumah tangga. Pada awal Maret 2026, Sunardi meminta izin mengajak anaknya menginap selama libur akhir pekan, namun menolak menyerahkan anak tersebut saat Agustin hendak menjemputnya kembali ke sekolah.
"Saya nggak mau, kan sudah bukan suami istri. Saya nggak mau saya diusir, nggak usah jemput, katanya itu anaknya juga. Saya bilang masih kalem, ini waktunya sekolah, kalau libur bisa dibawa lagi.
Nggak saya larang untuk ketemu. Awal mulanya seperti itu," ujar Agustin.
Setelah mendapat informasi dari adik mantan suaminya tentang kondisi anak yang tidak terawat, Agustin datang ke Pasar Keputran untuk mengambil putrinya. Namun, upayanya gagal dan ia mengalami kekerasan fisik dari mantan suaminya.
"Adiknya bilang 'mbak susulen ae anake sampean, aku kok sakno, anake samean nggak keramut nang kene. Wayahe makan nggak makan, wayahe mandi nggak mandi. Ayahe fokus HP terus' (mbak jemputan saja anakmu, aku kasihan, anakmu tidak terawat di sini.
Waktunya makan nggak makan, waktunya mandi nggak mandi. Ayahnya fokus HP terus). Sampai keluarganya di Keputran risih, anaknya nggak direken," jelas Agustin.
"Saya ke Pasar Keputran ambil. Nggak dibolehi, saya diajak cekcok, saya dipukuli, diludahi muka saya, saya disiram air. Maret dua hari sebelum puasa.
Akhirnya nihil, soalnya saya datang sendiri, nggak bisa bawa anak saya. Uang saya di tas juga hilang, tas saya direbut Sunardi, resleting juga buka. Nggak bisa bawa anak saya, akhirnya pulang nangis sejadi-jadinya.
Saya nggak kontak," tambahnya.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Surabaya melakukan klarifikasi bersama kepolisian. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti yang menguatkan tuduhan eksploitasi terhadap anak tersebut.
"Tadi malam kami klarifikasi dengan teman-teman Polres terkait berita bahwa ada anak yang dieksploitasi oleh bapaknya untuk mengemis, untuk mengamen," kata Kepala DP3A-PPKB Surabaya, Ida Widayati, saat berkunjung ke rumah anak di kawasan Dinoyo.
Ida mengatakan timnya telah bertemu dengan Sunardi dan anaknya, dan kondisi anak dalam pengasuhan ayahnya baik.
"Alhamdulillah kami sudah ketemu dengan anaknya dan anaknya dalam kondisi baik-baik saja dalam pengasuhan bapaknya," ujar Ida.
Pemkot Surabaya juga meminta keterangan dari Agustin sebagai ibu kandung. Ida menyatakan hingga kini bukti untuk mendukung dugaan eksploitasi belum ditemukan.
"Sampai saat ini kami belum mendapatkan bukti itu. Termasuk teman-teman Polres tadi malam juga menunggu bukti dari yang disampaikan ibunya," tegas Ida.
"Jadi, sampai saat ini belum ada klarifikasi kebenaran dari apa yang disampaikan oleh ibunya," tambahnya.