PBB Rilis Laporan Angka Kelaparan Global Turun Jadi 645 Juta Jiwa

Share

Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang mencatat penurunan angka kelaparan global menjadi 645 juta jiwa atau 7,8 persen populasi dunia pada 2025.

Meski angka kelaparan berangsur membaik dari 35 persen pada 1970 serta turun 14 juta jiwa dibanding 2024, PBB memperingatkan bahwa pencapaian target Nol Kelaparan pada 2030 tetap terancam gagal akibat tingginya harga pangan dan konflik geopolitik.

Kondisi kelaparan saat ini tidak merata di seluruh dunia. Afrika kini menjadi kawasan dengan jumlah penduduk paling banyak mengalami kelaparan, yakni mencapai 309 juta jiwa, melampaui Asia yang mencatat 292 juta jiwa.

Selain itu, sekitar 2,1 miliar penduduk dunia masih mengalami kerawanan pangan tingkat sedang hingga berat, dengan persentase tertinggi berada di Afrika mencapai 56,6 persen.

Di sisi gizi, terdapat 150 juta balita di dunia yang mengalami stunting, serta hanya 30,8 persen anak usia 6–23 bulan yang mendapatkan makanan bervariasi. Sementara itu, prevalensi obesitas dewasa naik dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024, dan kondisi kurang darah pada perempuan usia 15–49 tahun kian memburuk.

Rata-rata biaya untuk pola makan sehat secara global naik menjadi 4,28 dolar PPP per orang per hari pada 2025. Tingginya harga ini sebagian besar dipengaruhi oleh rantai pasok pascapanen yang menyumbang 70 hingga 75 persen dari harga akhir konsumen.

Sebanyak 2,69 miliar orang atau 32,7 persen populasi dunia masih belum mampu membeli makanan sehat. Di Afrika, bahkan dua pertiga penduduknya belum bisa menjangkau akses pangan bergizi tersebut.

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menilai bahwa tren perbaikan menunjukkan kemajuan masih dapat dijangkau jika ada tindakan cepat dari dunia internasional.

"Mengakhiri kelaparan dan membuat makanan sehat terjangkau membutuhkan komitmen politik, investasi berkelanjutan, dan kebijakan yang mendukung," kata Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO.

Laporan SOFI 2026 juga menegaskan bahwa rantai pasok makanan yang kuat menjadi faktor penentu utama dalam menekan harga dan menyediakan akses gizi bagi masyarakat.

"Laporan SOFI menunjukkan bahwa harga makanan sehat terus naik dan hampir 2,7 miliar orang masih belum mampu membelinya. Rantai pasok makanan yang kuat harus menjadi jawaban utamanya. Tugas kita sekarang adalah mengubah data laporan ini menjadi investasi nyata, tentunya melalui kerja sama. Bersama-sama, kita bisa membangun rantai pasok, sistem pasar, dan perekonomian desa yang membuat makanan sehat terjangkau bagi semua orang," kata Alvaro Lario, Presiden IFAD.

Sektor pangan dan perlindungan sosial diimbau saling terintegrasi agar penanganan masalah gizi dapat melindungi kelompok rentan secara efektif.

"Setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal, dan hal itu dimulai dari kemudahan mendapatkan makanan bergizi yang terjangkau. Laporan ini menjadi peringatan keras bahwa sistem pangan kita masih gagal memenuhi kebutuhan jutaan anak dan keluarga. Sektor pangan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial harus berjalan berdampingan untuk melindungi anak-anak dan perempuan yang paling rentan dari krisis global," kata Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF.

Kondisi ini diperkirakan berlanjut jika konflik global terus memicu inflasi pangan dan bantuan kemanusiaan mengalami penurunan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author