Ciri Orang Ber-EQ Rendah Saat Bersosialisasi Menurut Psikolog

Share

Tingkat kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) memegang peranan penting dalam cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seperti dilansir dari HaiBunda, individu yang memiliki EQ rendah umumnya menghadapi kendala dalam mengelola emosi serta mempertahankan hubungan sosial.

Psikolog klinis berlisensi Dr. Whitley Lassen menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kebiasaan sosial tertentu yang sering menjadi penanda tingginya kecerdasan emosional seseorang. Meski demikian, kondisi ini bukan berarti menjadikan seseorang pribadi yang buruk karena kecerdasan emosional dapat terus berkembang.

Menurut penjelasan Lassen, salah satu indikasi yang sering terlihat adalah kurangnya antusiasme untuk menjaga kelangsungan percakapan dengan kerabat. Orang dengan kondisi ini kerap menolak undangan berkumpul atau enggan terlibat dalam aktivitas kelompok.

Kendati demikian, Lassen memberi catatan bahwa enggan bersosialisasi tidak selalu disebabkan oleh EQ yang rendah. Kondisi tersebut bisa juga dipicu oleh kecemasan atau depresi yang sedang dialami seseorang.

Ciri berikutnya adalah kecenderungan bersikap defensif. Lassen menemukan bahwa orang yang merasa kewalahan atau memendam perasaan malu sering kali kesulitan menerima masukan, sehingga terkesan sangat sensitif saat berinteraksi.

Keterbatasan dalam menunjukkan rasa empati juga menjadi tanda lainnya. Lassen mengungkapkan bahwa individu yang sedang tertekan emosinya sering kali kesulitan memahami atau memberikan dukungan moral kepada orang lain.

Sikap kurang merespons obrolan, menarik diri dari diskusi emosional, hingga terkesan tidak peduli pada perasaan orang lain merupakan bentuk nyata dari minimnya empati tersebut.

Selain itu, ketidakmampuan mengendalikan emosi secara matang bisa meluapkan dorongan untuk membentak teman atau keluarga. Hal ini umumnya dipicu oleh sikap defensif atau kebiasaan hanya mementingkan sudut pandang pribadi.

Faktor Penyebab Rendahnya EQ

Proses tumbuh kembang dan pola pengasuhan masa kecil turut memengaruhi tingkat kecerdasan emosional seseorang. Kurangnya teladan yang baik dalam mengelola emosi sejak dini menjadi salah satu faktor pemicunya.

Di samping itu, kondisi keanekaragaman saraf seperti autisme atau ADHD juga berkaitan dengan perkembangan EQ. Masalah kesehatan mental seperti stres, depresi, hingga trauma dapat mengganggu kemampuan emosional seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author