Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Jawab Kritik Siswa di Yogyakarta
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan kritis mengenai kondisi perekonomian nasional dari dua orang siswa SMA dalam acara Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center pada Jumat (22/3/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kedua remaja yang berhadapan langsung dengan Menkeu serta Chairman CT Corp Chairul Tanjung tersebut adalah Dewi Masyitoh, siswi kelas 10 SMAN 3 Yogyakarta, dan Patik Sinaga, siswa kelas 11 SMA Taruna Nusantara Magelang.
Dewi Masyitoh, yang mengaku sebagai Gen-Z pendalami ilmu ekonomi, mempertanyakan keselarasan antara optimisme indikator makro dengan realitas penurunan daya beli masyarakat kelas bawah akibat pelemahan rupiah.
"Sebentar Pak, agak gugup," kata Dewi Masyitoh.
Siswi SMAN 3 Yogyakarta tersebut kemudian melanjutkan argumennya mengenai adanya risiko ilusi rata-rata dalam angka pertumbuhan ekonomi saat ini.
"Pak Purbaya tadi memaparkan data indikator makro yang sangat optimis lewat kenaikan penjualan semen dan otomotif. Namun, di sisi lain ketika kita melihat dari kacamata sektor konsumsi riil dan padat karya seperti yang dikelola oleh Pak CT, kita tahu ada kecemasan nyata di masyarakat bawah mengenai penurunan daya beli akibat pelemahan rupiah," ujar Dewi Masyitoh.
Dewi mengkhawatirkan pertumbuhan makro tersebut hanya didorong oleh segelintir sektor padat modal dan kelas atas.
"Pertanyaan saya, apakah angka pertumbuhan makro yang membaik ini sebenarnya menyimpan risiko ilusi rata-rata atau fallacy of composition, di mana ekonomi terlihat bertumbuh karena didorong oleh segelintir sektor padat modal dan kelas atas. Sementara mayoritas masyarakat bawah justru sedang mengalami tekanan daya beli?" ungkap Dewi Masyitoh.
Sementara itu, Patik Sinaga menyoroti target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen di tahun 2027 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto serta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Sebagai siswa, mungkin pengetahuan saya terbatas, tapi seperti yang kita tahu bahwa IHSG turun. Dan dengan penurunan tersebut, saya pikir apakah Indonesia bisa tetap keep up dalam pertumbuhan ekonomi karena sebagaimana kita tahu bahwa banyak sekali aliran dana dari asing untuk membantu pembangunan pertumbuhan ekonomi," kata Patik Sinaga.
Siswa SMA Taruna Nusantara Magelang tersebut mempertanyakan kecukupan dana pemerintah dalam menyokong sektor mikro.
"Apakah hanya dengan pertumbuhan dari dana pemerintah sudah cukup untuk men-support sektor-sektor yang mikro seperti yang kita lihat sekarang ini?" lanjut Patik Sinaga.
Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa meyakinkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia terus diperbaiki dan mengimbau masyarakat agar tidak khawatir akan terjadinya krisis seperti tahun 1998.
"Fondasi ekonominya kita perbaiki terus," kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Doktor bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University itu menambahkan bahwa Bank Indonesia juga akan turut membantu percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jadi ga usah takut, kita akan percepat pertumbuhan ekonomi. Nanti BI juga akan membantu," imbuh Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya kemudian mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu banyak belajar ilmu ekonomi melalui platform TikTok.
"Yang mereka belum belajar adalah, angka makro itu adalah penjumlahan. Angka makro itu adalah penjumlahan dari mikro mikro level," kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Ia menjelaskan korelasi mutlak antara kondisi ekonomi di tingkat mikro dengan agregat makro.
"Kalau mikronya jelek, pasti makronya jelek. Kalo makronya bagus, pasti mikronya lebih baik," imbuh Purbaya Yudhi Sadewa.
Menkeu juga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang ada belum sepenuhnya menyelesaikan seluruh kesulitan masyarakat karena faktor pemulihan pascapandemi.
"Cuma sekarang gini, apakah pertumbuhan yang sekarang ini sudah bisa mengurangi semua kesulitan masyarakatnya? Masih belum, karena kita baru (menghadapi) COVID," terang Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya menyebut laju pertumbuhan ekonomi pada periode tahun 2023 hingga 2025 memang lambat, serta menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap berita negatif.
"Jadi rupiah dan IHSG berbeda dari fondasi ekonomi, kadang-kadang ya. Karena di situ ada juga ekspektasi ke depan seperti apa. Nilai tukar rupiah dipengaruhi ekspektasi, nilai pasar saham juga dipengaruhi ekspektasi ketika banyak berita negatif," terang Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya menegaskan bahwa secara keseluruhan, arah kebijakan besar yang diambil oleh pemerintah saat ini sudah tepat.
"Dan sekarang boleh dibilang walau ga sempurna, kebijakan besarnya ga ada yang salah," ucap Purbaya Yudhi Sadewa.