IHSG melemah ke 6.185 di Tengah Pertemuan The Fed 27 Juli 2026

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka melemah sebesar 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80 pada Senin (27/7/2026) pagi. Penurunan ini terjadi seiring sikap hati-hati para pelaku pasar dalam mencermati pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Pelemahan indeks utama juga diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang merosot 2,07 poin atau 0,34 persen menuju level 612,72. Sebelumnya pada akhir pekan lalu, IHSG tercatat merosot 1,88 persen ke posisi 6.195 dengan nilai aliran modal asing keluar mencapai 118 juta dolar AS.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyatakan pergerakan Indeks diperkirakan cenderung melemah di rentang support 6.060 dan resistance 6.300. Ia menyebutkan bahwa koreksi yang terjadi masih dalam batas wajar selama indeks berada di atas level support tersebut.

"IHSG diperkirakan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar,” ujar Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Penurunan harga minyak mentah Brent sebesar 4,5 persen ke posisi 87 dolar AS per barel dinilai menjadi sentimen positif yang mampu menahan tekanan pasar. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi serta menekan risiko biaya energi bagi dunia usaha dan neraca perdagangan Indonesia.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” kata Hendra Wardana.

Dari dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia turut direspon pasar. Penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI dinilai memberikan kepastian atas kesinambungan arah kebijakan moneter.

"Hal tersebut juga tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen, sehingga menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut,” ucap Hendra Wardana.

Selain menantikan agenda FOMC The Fed pada 28–29 Juli 2026, investor global memantau kebijakan Bank of Japan, Bank of England, serta data pertumbuhan ekonomi kuartal II AS. Menurut analisis Ashmore, investor disarankan berfokus pada saham berkualitas dan obligasi berpendapatan stabil di tengah potensi gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author