Bisnis Kedai Kopi MunCheng di Singapura Rugi Rp 13,9 Miliar

Share

Penurunan jumlah pengunjung memaksa seorang pemilik kedai kopi di Singapura menjual kiosnya seharga Rp 34 juta. Meski demikian, tempat usaha tersebut tidak kunjung mendapatkan pembeli hingga memicu pembengkakan kerugian. Persaingan bisnis kuliner yang sangat ketat menjadi pemicu utama kegagalan kedai kopi ini untuk bertahan.

Lonjakan biaya operasional serta sewa tempat yang terus meningkat kian memperberat kondisi keuangan pengelola. Seperti dikutip dari Detik Food melalui laporan Shin Min Daily News, pemilik MunCheng Coffee Shop di Block 510 Bedok North Street 3, Singapura, mengalami akumulasi kerugian. Kerugian bisnis sejak mengambil alih pada 2024 tersebut menyentuh S$1 juta atau sekitar Rp 13,9 miliar.

Usaha ini tercatat telah berjalan selama dua setengah tahun. Pemilik kedai bernama Chen mengungkapkan bahwa separuh unit kios sebenarnya sudah kosong sejak awal ia mengambil alih manajemen bisnis tersebut.

Chen sebelumnya menanamkan investasi awal hingga melebihi S$500.000 atau setara Rp 6,9 miliar untuk proses renovasi. Keputusan memilih lokasi Bedok North diambil karena posisinya berdekatan dengan area pemukiman apartemen dan pasar. Ekspektasi awal terkait tingginya arus lalu lintas konsumen ternyata tidak terwujud di lapangan. Chen mengaku terkejut dengan tingkat perputaran tenant kios yang sangat tinggi di kawasan tersebut.

Untuk menekan laju pengeluaran bulanan, pengelola mengambil tindakan efisiensi dengan memberhentikan karyawan. Dua pekerja dari unit kios minuman terpaksa di-PHK akibat memburuknya arus kas. Pengurangan tenaga kerja ini dilakukan secara bertahap seiring memburuknya situasi pasar. Chen memangkas jumlah pekerja dari awalnya enam orang hingga kini tersisa dua karyawan saja.

"Pada masa jaya, kamu memiliki enam karyawan, tetapi kami terus melakukan pemberhentian satu per satu, dan sekarang mungkin hanya tersisa dua orang," jelasnya. Faktor demografi kawasan disinyalir menjadi salah satu penyebab utama sepinya pembeli. Salah satu penyewa di area sekitar menyebut populasi lingkungan tersebut didominasi oleh warga lanjut usia yang jarang berbelanja ke kedai.

Kondisi serupa dialami Pasar dan Pusat Kuliner Kaki Bukit 511 yang berlokasi amat dekat dari tempat usaha Chen. Jumlah pengunjung di pusat kuliner itu terus mengalami penurunan sejak pasca pandemi Covid-19.

Fenomena penutupan gerai makanan secara permanen di Singapura memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mayoritas pengusaha gagal menutupi biaya operasional dan sewa tempat akibat rendahnya angka penjualan harian.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bisnis kuliner Singapura
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author