Studi Ungkap Tipe Kepribadian Tentukan Jenis Olahraga yang Cocok

Share

Pemilihan jenis olahraga rupanya tidak sekadar dipengaruhi oleh tren atau target kesehatan fisik belaka. Hasil riset terbaru menunjukkan bahwa karakter kepribadian seseorang memegang peranan penting dalam menentukan jenis latihan yang tepat dan dapat dipertahankan secara konsisten.

Dikutip dari HaiBunda, studi yang terbit dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2025 mengungkapkan bahwa perbedaan ciri kepribadian memicu preferensi olahraga yang bervariasi. Penelitian ini melacak 132 responden berusia 25 hingga 51 tahun melalui kuesioner lima sifat utama, yakni ekstroversi, neurotisme, keramahan, keterbukaan, serta ketelitian.

Para peneliti juga menggelar tes kebugaran dan membagi subjek ke dalam dua kelompok latihan selama delapan minggu. Sebanyak 86 peserta berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pengujian hingga akhir program.

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa individu ekstrovert cenderung menyukai aktivitas fisik berintensitas tinggi bersama kelompok, seperti olahraga tim. Sebaliknya, pemilik skor neurotisme tinggi lebih memilih latihan mandiri tanpa pengawasan publik yang diselingi istirahat singkat.

Neurotisme sendiri merupakan ukuran ketidakstabilan emosional yang membuat seseorang mudah mengalami kecemasan dan sensitif terhadap tekanan stres. Sementara itu, responden dengan tingkat ketelitian tinggi mencatatkan tingkat kebugaran yang lebih menyeluruh karena terdorong oleh kesadaran akan manfaat kesehatan.

"Kepribadian menentukan intensitas dan bentuk latihan apa yang menarik bagi kita. Jika kita dapat memahami hal itu, maka kita dapat mengambil langkah pertama untuk memulai olahraga, terutama pada individu yang kurang aktif," kata salah satu penulis utama studi dan profesor madya ilmu olahraga di University College London, Flaminia Ronca, dilansir CNN.

Pengamatan tersebut juga mendapat tanggapan dari akademisi Florida State University, Angelina Sutin. Ia menilai pendekatan berbasis tipe kepribadian dapat membantu penyedia layanan kesehatan menyusun rekomendasi latihan yang lebih personal.

"Biasanya kita menyuruh orang berolahraga dan hanya mengatakan, 'Kami tahu latihan interval intensitas tinggi itu baik untuk kamu, jadi kamu harus melakukannya," ungkap Ronca.

"Namun, bagi orang yang memiliki tingkat neurotisme tinggi, mereka tidak akan melakukannya, dan kita juga tahu bahwa olahraga intensitas rendah pun bisa bermanfaat. Dengan mengetahui bahwa seseorang memiliki tingkat neurotisme tinggi, merekomendasikan jenis olahraga tersebut, mungkin membuatnya ingin memulai aktivitas."

Di sisi lain, keterkaitan antarsifat kepribadian turut memengaruhi kepatuhan berolahraga. Individu yang memiliki kombinasi skor neurotisme dan ketelitian tinggi mungkin merasa cemas saat beraktivitas, namun tetap menjalankannya secara rutin demi menjaga kondisi tubuh.

"Sifat kepribadian itu hanyalah deskripsi tentang cara orang berperilaku dalam situasi tertentu," ujar profesor ilmu saraf di UCL, Paul Burgess.

"Cara orang berperilaku dalam situasi tertentu sebagian besar ditentukan oleh kemampuan otak mereka, apa yang mereka perhatikan, apa yang mereka soroti, apa yang dapat mereka ingat, dan seberapa cepat mereka dapat bereaksi," lanjutnya.

Dampak terhadap Pengelolaan Stres

Riset tersebut juga mengevaluasi tingkat stres peserta selama periode intervensi. Individu yang rentan cemas diketahui memerlukan waktu pemulihan fisik yang lebih lama usai menuntaskan sesi olahraga.

Menariknya, kelompok dengan tingkat neurotisme tinggi menjadi satu-satunya kategori yang melaporkan penurunan stres secara signifikan setelah rutin berlatih. Aktivitas fisik terstruktur terbukti berfungsi sebagai pengatur emosi yang membantu menenangkan pikiran.

"Mereka yang paling banyak mendapat manfaat dari pengurangan stres adalah mereka yang benar-benar menunjukkan penurunan stres setelah delapan minggu berolahraga. Saya pikir itu adalah pesan yang sangat penting untuk disampaikan," kata Ronca.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author