Meta PHK 8.000 Karyawan demi AI hingga Runtuhkan Moral Pekerja
Raksasa teknologi Meta memangkas sekitar 10% tenaga kerjanya seiring langkah perusahaan merestrukturisasi bisnis agar berpusat pada teknologi kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini mengakibatkan sekitar 8.000 pegawai Meta resmi di PHK, seperti dilansir dari Detik iNET.
Langkah efisiensi ini diambil demi menggelontorkan miliaran dolar ke sektor AI. Dampaknya, situasi internal Meta kini terguncang oleh restrukturisasi yang tiada henti, runtuhnya moral pekerja, hingga ketakutan bahwa AI secara perlahan menggerus lapangan pekerjaan kerah putih di seluruh Silicon Valley.
Mantan desainer konten Meta yang telah bekerja lebih dari empat tahun, Brittany Pierson, justru mengaku lega setelah terkena pemangkasan tersebut karena sudah lama mengantisipasi perannya akan tergantikan oleh AI. Ia juga memperingatkan adanya gelombang pemberhentian berikutnya dalam beberapa bulan ke depan.
"Jika selamat, Anda harus mulai melatih diri untuk peran yang sama sekali baru dan tidak bisa digantikan AI sambil mempersiapkan mental untuk gelombang PHK berikutnya, yang rumornya akan terjadi Agustus," kata Pierson di Instagram.
Pernyataan tersebut bertentangan dengan jaminan CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan tidak memproyeksikan adanya pemangkasan lini tenaga kerja dalam skala besar lagi pada tahun ini.
"Saya ingin menegaskan kami tak memperkirakan adanya PHK berskala perusahaan lagi tahun ini," ujar Zuckerberg, dikutip dari Reuters.
Gelombang pemutusan hubungan kerja ini menyisakan kisah pilu bagi para pekerja, termasuk salah satu karyawan yang kehilangan pekerjaannya saat sedang hamil tujuh bulan.
"Saya sangat hancur mendengar berita PHK. Saya telah memberi tahu manajer bahwa saya hamil dan resmi mengajukan cuti melahirkan. Waktunya terasa makin buruk karena saya menantikan kelahiran bayi pertama Juli ini," tulisnya.
Di sisi lain, situasi ini juga menyisakan beban psikologis bagi pegawai yang berhasil mempertahankan posisi mereka di perusahaan.
"Tolong jangan berpikir orang yang di-PHK dari Meta kinerjanya buruk. Saya hanya pekerja dengan kinerja rata-rata dan saya merasa sangat bersalah karena selamat sementara rekan setim di-PHK," ujar pekerja itu.
Kondisi kerja yang tidak menentu ini dikabarkan menguras kesehatan mental para staf secara signifikan akibat reorganisasi yang terus berjalan.
"Tingkat sikap tidak hormat dan kekacauan yang kami hadapi tiap hari sungguh di luar nalar. Karyawan Meta sangat membutuhkan terapi setelah semua rentetan PHK dan reorganisasi terus-menerus ini. Kesehatan mental di titik terendah," sebutnya.
Pandangan Engineer dan Ketidakpastian Industri
Matthew Young, seorang engineer software Meta yang baru bekerja selama satu tahun, mengetahui pemberhentian dirinya melalui email yang masuk pada pukul 4 pagi. Ia menyebut bayang-bayang pemangkasan telah menghantui timnya selama berbulan-bulan.
Pria berusia 29 tahun itu menilai teknologi kecerdasan buatan belum sepenuhnya mampu menggantikan peran perekayasa perangkat lunak secara utuh.
"AI meningkatkan produktivitas? Ya. Apakah ia menggantikan manusia? Tidak," sebutnya.
Kendati demikian, kecemasan terhadap masa depan karier di industri teknologi tetap meluas. Seorang karyawan terdampak berspekulasi bahwa Meta kemungkinan akan melakukan pengurangan staf berbasis kinerja di akhir tahun agar tidak melabelinya sebagai pemangkasan massal.
Ketika ditanya tentang reputasi kepemimpinan tertinggi di perusahaan, pekerja tersebut memberikan kritik tajam terhadap fokus manajemen.
"Dia sama sekali tak peduli. Dia hanya fokus pada profit," klaimnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran kolektif mengenai hilangnya jaminan keamanan karier jangka panjang di sektor teknologi global, yang dahulu dikenal sangat menjanjikan.
"Menurut saya, industri ini tidak lagi memiliki keamanan atau jaminan karier jangka panjang seperti dulu. Saya rasa orang-orang akan melakukan banting setir karier secara besar-besaran hanya demi keluar dari industri teknologi," tuturnya.
Fleksibilitas untuk berpindah antar-perusahaan raksasa kini juga dianggap semakin menipis akibat adopsi AI yang merata di berbagai korporasi besar.
"Dulu jika Anda di-PHK dari Meta, Anda bisa pindah ke perusahaan lain seperti Google, Amazon, atau raksasa teknologi lainnya," tambahnya.
"Tapi sekarang dengan adanya PHK ini dan karena tahu penyebabnya adalah AI, Anda mungkin bisa pindah ke salah satu perusahaan tersebut, tapi akhirnya bisa saja di-PHK lagi di sana enam bulan kemudian," pungkasnya.