Turis Diangkut Tandu di Gunung Girnar India Tuai Kontroversi
Aksi seorang turis berkecukupan yang diangkut menggunakan tandu oleh empat warga lokal saat mendaki Gunung Girnar di Gujarat, India, mendadak viral. Rekaman peristiwa tersebut memicu perdebatan hangat di media sosial mengenai batas etika dan ketimpangan ekonomi, seperti dikutip dari Detik Travel.
Unggahan akun X Daniel Mayakovski memperlihatkan empat porter menggotong peziarah di atas tandu tradisional (palki). Para pemikul meniti tangga batu terjal berbekal tongkat kayu demi menjaga keseimbangan. Jalur ziarah menuju Puncak Dattatreya tersebut melintasi lebih dari 10.000 anak tangga dengan kecuraman tinggi.
Kritik tajam mencuat karena fenomena ini dinilai mengeksploitasi penderitaan fisik masyarakat lokal demi kenyamanan wisatawan yang mampu membayar. Gunung Girnar sendiri menjulang setinggi 1.031 meter di atas permukaan laut di Distrik Junagadh, sekaligus menjadi titik tertinggi di Gujarat.
Gunung Girnar memegang peranan penting bagi kehidupan spiritual lintas agama di India. Bagi penganut Jainisme, kawasan ini menjadi situs tersuci tempat Neminatha mencapai pencerahan spiritual tertinggi (Kevala Jnana). Sementara bagi umat Hindu, gunung tersebut disucikan karena memuat tempat bertapa seperti Kuil Amba Mata, Mahakali Mandir, dan Puncak Dattatreya.
Wilayah ini juga menyimpan nilai sejarah penting melalui Prasasti Batu Kaisar Ashoka dari abad ke-3 SM yang memuat pesan ajaran moral ahimsa. Selain itu, kawasan hutan di sekeliling gunung menjadi benteng pertahanan terakhir bagi populasi Singa Asia yang tersisa di dunia.
Pro dan Kontra Pemanfaatan Jasa Tandu
Layanan tandu atau palki sejatinya dihadirkan sebagai bentuk kepedulian sosial bagi peziarah lansia, penyandang disabilitas, atau warga yang memiliki gangguan kesehatan berat. Namun, polemik timbul saat pengunjung muda berbadan sehat ikut memanfaatkan jasa tersebut agar tidak kelelahan menaiki ribuan anak tangga.
Sejumlah warganet menyayangkan sikap tersebut dan mengkritik pengalihan beban fisik kepada kelompok ekonomi rentan. Di sisi lain, sebagian masyarakat membela para porter karena pekerjaan menggotong tandu merupakan pilihan profesi yang menjadi sumber penghasilan tetap bagi keluarga mereka di pedesaan Gujarat.
Perdebatan serupa pernah memicu aksi protest porter di situs ziarah Kedarnath yang menolak pembangunan kereta gantung karena khawatir kehilangan mata pencaharian. Fenomena di Gunung Girnar ini akhirnya mencerminkan dinamika rumit antara etika spiritual, kebutuhan ekonomi, dan realitas sosial warga setempat.