Ferran Torres Kembali Melajang Saat Mengarungi Piala Dunia 2026

Share

Penyerang Tim Nasional Spanyol dan FC Barcelona, Ferran Torres, berstatus lajang setelah mengakhiri hubungan asmaranya dengan pembuat konten Martina Alguero menjelang laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Belgia pada Jumat, 10 Juli 2026.

Kabar keretakan hubungan pemain berusia 26 tahun tersebut mencuat usai keduanya saling berhenti mengikuti di media sosial Instagram dan TikTok. Hubungan mereka pertama kali terendus saat kedapatan berlibur bersama di Ibiza pada Mei dan Juni 2026.

Jurnalis Spanyol Javier de Hoyos menjadi pihak yang mengonfirmasi berakhirnya jalinan kasih tersebut setelah berdiskusi dengan pihak internal terdekat sang pemain.

"está viviendo el Mundial soltero" ujar lingkaran terdekat Ferran Torres kepada jurnalis Javi Hoyos.

Laporan dari divinity.es membenarkan bahwa kedekatan antara pesepak bola asal Foios tersebut dengan sang penata busana telah usai, sehingga Torres menjalani sisa kompetisi di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tanpa pasangan.

"Ferran está soltero. Sí, a ver, realmente nunca había dejado de estar soltero porque no había iniciado una relación con la influencer con la que os dije que tenía un romance, pero sí que es cierto que este romance ya se ha acabado" ujar Javier de Hoyos.

Meskipun rumor asmara sempat berembus, baik Torres maupun Martina Alguero tidak pernah memberikan pernyataan resmi ke publik. Martina sendiri terpantau tetap membagikan aktivitas liburannya di Bali bersama rekan-rekannya secara normal.

"Esta noche se producía al dejarse de seguir en redes sociales. Ferran le dejaba de seguir a ella y ella le dejaba de seguir a él. He podido hablar con el entorno más cercano de ambos y me confirman que sí, que ese romance, al menos por el momento, ya se ha finalizado ahora mismo. Ferran está viviendo el Mundial soltero" kata Javier de Hoyos.

Sebelumnya, pesepak bola berjuluk El Tiburon itu pernah menjalin hubungan resmi dengan putri Luis Enrique, Sira Martinez, dari 2021 hingga pertengahan 2023. Ia juga sempat dikaitkan dengan Lucia Domenech pada akhir 2025 serta pembuat konten Marta Diaz.

Di luar masalah asmara, Torres mengungkapkan perjuangan kesehatan mentalnya dalam wawancara bersama El Debate. Ia menceritakan trauma masa kecil akibat perceraian orang tuanya saat ia berusia 12 tahun yang memaksanya tinggal di asrama akademi Valencia CF.

«El domingo por la noche era llorar y llorar» kenang Ferran Torres.

Pengalaman tinggal di asrama meski jarak rumahnya hanya 30 menit sempat membuat Torres merasa terisolasi dan malu kepada rekan-rekannya.

«Fue un shock para mí porque era bastante pequeño y no supe cómo afrontarlo» jelas Ferran Torres.

Peristiwa tersebut membentuk karakternya menjadi sosok tertutup saat menghadapi masalah pribadi.

«Allí vivía con la gente que era de fuera, era un caso raro, me daba vergüenza decir por qué estaba allí. No lo contaba, intentaba inventarme de dónde era» ungkap Ferran Torres.

Masa-masa sulit di akademi diakuinya menuntut pendewasaan diri secara lebih cepat.

«El domingo por la noche era llorar y llorar. Tenerlos tan cerca pero a la vez tan lejos era un poco duro. Fue duro, pero me hizo madurar antes de hora. Por eso a dia de hoy soy la persona que soy» tambah Ferran Torres.

Kebiasaan memendam masalah terus berlanjut hingga ia membela Manchester City dan pindah ke Barcelona pada 2021. Penurunan performa dan kritik media sosial sempat membuatnya terpuruk sebelum akhirnya berkonsultasi dengan psikolog profesional.

«No lo compartía con nadie, me encierro en el baño yo solo y a solucionar los problemas yo solo. Siempre he sido muy cerrado, muy mío» aku Ferran Torres.

Ia sempat enggan mengakui kondisi mentalnya yang terganggu akibat kurangnya porsi latihan ekstra di luar lapangan.

«No quería admitir ni creerme que estaba mal. Sabía que me había descentrado, que no entrenaba tanto, que no echaba las horas, que no me preparaba fuera del fútbol, pero no quería afrontarlo. Pensaba que estaba bien, pero todo el mundo sabía que yo no estaba bien» papar Ferran Torres.

Kehilangan kepercayaan diri akibat minimnya menit bertanding sempat menghancurkan hasil kerja kerasnya.

«No tenía el nivel de autoconfianza que tengo ahora porque no jugaba, me iba a casa, que quería matar a alguien y se me iba todo lo que había trabajado. Era un pozo sin fondo, fue un año muy duro» pungkas Ferran Torres.

Guna menjaga mentalitas bertanding, ia kini mengabaikan komentar negatif di media sosial dan mengandalkan keyakinan agamanya bersama pelatih Luis de la Fuente serta rekan setimnya Nico Williams.

«Ahora mismo no me afectan. Todo lo que expresa o puede contaminar no lo leo, ni le doy importancia porque no me va a provocar nada en mi vida. Cuando se acaba el partido, se acaba y ya. Ahí ya no soy Ferran futbolista, soy Ferrán persona» tegas Ferran Torres.

Simbol keagamaan menjadi pilar utama sang penyerang dalam menghadapi dinamika karier dan kehidupan pribadinya di Piala Dunia 2026.

«Tengo la cruz y una Virgen. Al final, creo que es algo que me da mucho apoyo, que me da tener muchísima fe y para mí es algo muy importante» ujar Ferran Torres.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author