Mengenal Fibroadenoma Benjolan Payudara Jinak pada Perempuan Muda

Share

Fibroadenoma merupakan benjolan payudara jinak yang paling kerap menyerang perempuan, khususnya pada kelompok usia 15 hingga 35 tahun. Walaupun bukan termasuk kategori kanker, kemunculan benjolan ini sering memicu kekhawatiran karena penampilannya menyerupai indikasi kanker payudara.

Dikutip dari HaiBunda, tumor yang memiliki tekstur halus, berbentuk bulat, dan padat ini terbentuk dari kombinasi jaringan fibrosa serta jaringan kelenjar. Kasus fibroadenoma yang mengandung sel kanker payudara tercatat sangat langka, sehingga kondisi ini umumnya tidak berkembang menjadi kanker.

Benjolan ini dapat tumbuh pada salah satu atau kedua payudara secara sekaligus. Ukuran yang ditemukan sangat bervariasi, mulai dari sekecil kacang polong sampai ada yang melebihi diameter 5 sentimeter.

Karakteristik yang berbeda membuat fibroadenoma diklasifikasikan ke dalam empat jenis utama.

1. Fibroadenoma Sederhana (Simple Fibroadenoma)

Jenis ini menjadi variasi yang paling banyak ditemukan di masyarakat. Ukurannya cenderung kecil dan tidak memicu peningkatan risiko kanker payudara. Hasil biopsi lewat mikroskop menunjukkan struktur sel yang seragam dan tersusun sama.

2. Fibroadenoma Kompleks

Kondisi ini umumnya didiagnosis pada perempuan yang telah berusia di atas 35 tahun. Jenis ini dapat memiliki kandungan kista kecil atau kalsifikasi, yang memicu sedikit peningkatan risiko kanker payudara. Kemunculannya mencakup sekitar 15 persen dari total kasus.

3. Fibroadenoma Raksasa (Giant Fibroadenoma)

Kategori ini disematkan pada benjolan yang pertumbuhannya melebihi ukuran 5 sentimeter. Akibat ukurannya yang masif, bentuk payudara dapat mengalami perubahan anatomi sehingga tindakan operasi pengangkatan sering kali diperlukan.

4. Fibroadenoma Juvenil

Variasi ini menyerang kelompok anak-anak serta remaja pada rentang usia 10 sampai 18 tahun. Meskipun kasusnya tergolong jarang terjadi, fibroadenoma juvenil bersifat jinak dan memiliki peluang kesembuhan yang sangat baik.

Gejala dan Karakteristik Fisik

Sifatnya yang tidak menimbulkan rasa sakit membuat fibroadenoma sering kali baru terdeteksi sewaktu melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Ciri fisiknya meliputi bentuk bulat atau oval dengan batasan yang jelas, permukaan halus, serta tekstur padat yang kenyal.

Ukuran standarnya berkisar antara 2 hingga 3 sentimeter, meski bisa lebih kecil atau lebih besar. Sensitivitas atau rasa nyeri dapat meningkat pada beberapa perempuan beberapa hari sebelum masa menstruasi dimulai.

Pertumbuhan benjolan ini berjalan sangat lambat, bahkan dapat menyusut dengan sendirinya pada remaja atau wanita pascamenopause. Sebaliknya, ukuran benjolan dapat membesar secara signifikan selama masa kehamilan.

Faktor Penyebab

Medis belum memastikan penyebab mutlak di balik kemunculan fibroadenoma. Kendati demikian, para pakar menduga ada kaitan erat dengan aktivitas hormon estrogen di dalam tubuh.

Dugaan ini diperkuat oleh fakta bahwa benjolan membesar saat kehamilan atau terapi hormon, dan menyusut setelah menopause kala estrogen menurun. Fibroadenoma sendiri tumbuh pada bagian lobulus, yaitu area payudara yang memproduksi ASI.

Metode Penanganan

Beberapa kasus menunjukkan benjolan bisa mengecil atau lenyap tanpa intervensi medis. Jika biopsi memastikan statusnya non-kanker, dokter umumnya merekomendasikan pemantauan rutin berkala setiap tiga hingga enam bulan.

Proses monitoring ini melibatkan pemeriksaan fisik langsung, tindakan USG payudara, atau mammografi. Langkah operasi berupa eksisi bedah diambil apabila benjolan memicu nyeri, berukuran terlalu besar, atau memicu kecurigaan klinis.

Prosedur alternatif seperti krioablasi dapat dilakukan untuk membekukan dan menghancurkan jaringan tumor. Namun, tindakan pembekuan ini lebih jarang diaplikasikan jika dibandingkan opsi bedah konvensional.

Langkah Pencegahan

Belum ada metode medis yang terbukti mampu menurunkan risiko fibroadenoma secara langsung. Langkah yang tersedia ditujukan untuk menekan risiko kanker payudara secara umum.

Tindakan tersebut meliputi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara berkala serta pemeriksaan klinis tahunan oleh dokter umum atau spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG). Skrining mammografi disarankan mulai usia 40 tahun, atau lebih awal bagi kelompok risiko tinggi.

Gaya hidup sehat juga berperan penting melalui pembatasan atau penghindaran konsumsi alkohol serta tidak merokok. Konsumsi buah dan sayur yang melimpah, olahraga teratur, serta menjaga berat badan ideal menjadi faktor pendukung utama.

Kondisi yang Memerlukan Evaluasi Medis

Pemeriksaan ke dokter harus segera dilakukan jika muncul benjolan baru atau terjadi perubahan bentuk dan ukuran pada benjolan lama. Indikasi lain yang diwaspadai adalah munculnya rasa nyeri, keluarnya cairan dari puting, atau timbulnya ruam di area sekitar puting.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author