Donald Trump Segera Umumkan Kesepakatan Damai AS dengan Iran

Share

Kemajuan signifikan dicapai dalam negosiasi internasional setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa sebagian besar poin kesepakatan damai dengan Iran telah dinegosiasikan. Hubungan diplomatik ini diproyeksikan bakal membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Seperti yang dilansir dari Bloombergtechnoz, draf perjanjian tersebut kini sedang memasuki tahapan finalisasi. Langkah diplomasi ini melibatkan komitmen bersama dari beberapa negara terkait.

“Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat (AS), Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain,” tulis Trump pada hari Sabtu dalam sebuah unggahan di media sosial.

Sebelum kesaksian ini muncul, pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa dialog perdamaian dengan pihak AS terus berjalan secara intensif. Fokus utama dari pembicaraan tersebut adalah menghentikan pertempuran yang terjadi di seluruh lini perbatasan.

Upaya stabilitas kawasan ini juga mendapat dukungan dari kekuatan regional. Pakistan bersama sejumlah negara Arab terus mendorong perluasan cakupan gencatan senjata yang telah bertahan selama enam minggu terakhir.

Donald Trump sendiri dilaporkan langsung menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan di Gedung Putih setelah menjalin komunikasi intensif dengan para pemimpin kawasan. Dialog tersebut melibatkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai draf nota kesepahaman (MoU) perdamaian.

Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kemajuan ini melalui pernyataan resmi otoritas diplomatik mereka. Isyarat positif terlihat dari proses peninjauan draf akhir yang sedang berlangsung.

Televisi pemerintah Iran mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei yang mengatakan, “Selama seminggu terakhir, prosesnya telah bergerak menuju konvergensi pandangan.”

Kendati demikian, sejumlah isu krusial masih menjadi tanda tanya besar dalam draf kesepakatan tersebut. Nasib program nuklir Teheran dan tuntutan pencabutan sanksi ekonomi global dilaporkan belum masuk dalam pembahasan utama saat ini.

Persoalan pengelolaan Selat Hormuz juga menjadi agenda penting yang harus diselesaikan kedua belah pihak. Jalur perdagangan energi global ini telah mengalami penutupan total sejak pertempuran pecah pada 28 Februari.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan keterangan mengenai perkembangan situasi ini di sela kunjungan kerjanya di India. Ia menegaskan posisi AS yang tetap menolak kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

“Ada beberapa kemajuan,” dan ada kemungkinan pengumuman akan dibuat dalam beberapa hari mendatang, kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio kepada wartawan di India pada hari Sabtu, menambahkan bahwa AS tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, harus menyerahkan uranium yang diperkaya, dan kapal harus diizinkan untuk melewati selat dengan bebas.

“Preferensi presiden selalu untuk menyelesaikan masalah seperti ini melalui solusi diplomatik yang dinegosiasikan.”

Di sisi lain, Teheran tetap mempertahankan posisi mereka dengan menolak penyerahan cadangan uranium. Pihak Iran juga berencana menerapkan tarif khusus bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Iran menuntut pencairan aset negara yang dibekukan di luar negeri sebagai syarat awal. Proses transparansi menjadi tuntutan utama Teheran sebelum menyepakati poin-poin damai selanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author