Bank Indonesia Catat Cadangan Devis Juni 2026 Naik Jadi US$145,6 Miliar
Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia mengalami kenaikan menjadi US$145,6 miliar pada Juni 2026 dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$144,9 miliar. Kenaikan perdana sepanjang tahun ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta stabilisasi nilai tukar rupiah, dilansir dari Bloomberg Technoz.
Peningkatan cadangan devisa sebesar US$700 juta atau sekitar 0,48 persen tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional yang ditetapkan sebesar 3 bulan impor.
Upaya pelesatarian cadangan devisa ini terbantu oleh arus masuk portofolio asing sebesar US$5,52 miliar sepanjang Juni menurut catatan Permata Institute for Economic Research (PIER). Aliran modal masuk tersebut meliputi Surat Berharga Negara (SBN) senilai US$1,26 miliar, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai US$3,85 miliar, serta obligasi global Danantara sebesar US$1,5 miliar. Selain itu, Samuel Sekuritas mencatat adanya penerbitan obligasi Samurai dan Blue Bonds senilai US$1,08 miliar yang turut menopang pembiayaan.
Meskipun terjadi kenaikan, pertumbuhan cadangan devisa dinilai belum cukup kuat akibat besarnya beban pembayaran utang luar negeri jatuh tempo yang mencapai Rp833 triliun atau setara US$46,38 miliar pada tahun ini. Penurunan tajam posisi devisa dari akhir 2025 yang sempat menyentuh US$156,5 miliar disebabkan oleh tingginya volatilitas rupiah akibat ketidakpastian moneter global dan memburuknya kinerja perdagangan nasional.
“Arus masuk valas bulan itu cukup untuk menutup sebagian tekanan, tetapi belum cukup untuk mengembalikan cadangan devisa ke posisi akhir 2025,” sebut Josua kepada Bloomberg Technoz.
Ekonom memperkirakan posisi cadangan devisa hingga akhir tahun berpotensi berada pada kisaran US$140 miliar hingga US$145 miliar, sementara Fitch Ratings memproyeksikan penurunan ke level 4,9 bulan impor yang dapat mengancam peringkat utang Indonesia jika berada di bawah rata-rata negara berperingkat BBB.
“Pemerintah perlu memperkuat sumber devisa yang lebih tahan lama misalnya memperbesar realisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE), menjaga surplus perdagangan, mendorong ekspor manufaktur dan hilirisasi bernilai tambah, mempercepat penerimaan devisa dari pariwisata dan jasa, serta menarik investasi langsung yang benar-benar membawa valas masuk,” terang Josua.
Langkah diversifikasi melalui instrumen pembiayaan valuta asing dinilai hanya sebagai solusi sementara yang tidak boleh menambah beban utang luar negeri secara berlebihan.
“Perbaikan cadangan devisa yang sehat harus berasal dari ekspor, investasi langsung, repatriasi devisa, dan turunnya kebutuhan intervensi, bukan semata dari penambahan utang luar negeri,” ujar Josua.
Pemerintah disarankan melakukan langkah struktural termasuk menekan impor energi dan barang konsumsi non-mendesak demi mencegah kebocoran valuta asing setelah adanya sinyal peringatan dari defisit perdagangan bulan Mei.