Serangan AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Share

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan ke wilayah Iran pada Rabu, 8 Juli 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan yang menyasar kapal-kapal komersial di kawasan Selat Hormuz, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat sekitar 3 persen hingga melewati level 72 dolar AS per barel, sedangkan jenis Brent ditutup mendekati angka 74 dolar AS per barel.

Komando Pusat AS (USCENTCOM) menyatakan pasukannya memulai serangan kuat demi memberikan efek jera atas gangguan di jalur pelayaran tersebut. Otoritas kantor berita Iran, Mehr, melaporkan suara ledakan terdengar di salah satu pulau dekat selat tersebut. Kebijakan militer Washington ini juga dibarengi dengan keputusan Departemen Keuangan AS yang resmi mencabut fasilitas pembebasan sanksi ekspor minyak mentah bagi Teheran.

Langkah tersebut otomatis membatalkan poin krusial dari kesepakatan damai sementara yang sempat disetujui bersama sebelumnya. Tercatat ada tiga kapal komersial yang diserang di koridor perairan tersebut pada Selasa, termasuk kapal pengangkut gas dan sebuah kapal tanker minyak milik Arab Saudi.

Eskalasi terbaru ini dinilai mengancam stabilitas pasar energi global dengan gelombang gangguan baru. Dampak dari serangan terhadap kapal komersial serta serangan balasan dari AS diproyeksikan bakal membuat pemilik kapal dan produsen minyak regional enggan melintasi Selat Hormuz. Sebelum insiden ini pecah, sejumlah lembaga perbankan termasuk Goldman Sachs Group Inc sempat memperingatkan adanya risiko surplus pasokan minyak bumi karena para produsen regional tengah berpacu memulihkan kapasitas produksi mereka.

"Ini menjadi pengingat bagi pasar bahwa jalur pelayaran di selat tersebut masih sangat rentan. Kondisi ini bertolak belakang dengan sentimen yang berkembang bahwa pasar akan dibanjiri kelebihan pasokan, dan bisa membuat para pelaku pasar yang sebelumnya memasang posisi jual dalam jumlah besar memilih menutup posisi mereka," ujar Kavonic, analis pasar energi. Kavonic merujuk pada potensi para trader untuk menghentikan spekulasi terhadap penurunan harga minyak. Penguasaan Selat Hormuz yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari menjadi salah satu titik perselisihan utama antara Washington dan Teheran.

Pada Selasa, Iran juga menyampaikan kepada badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa negara tersebut memiliki kewenangan atas sebagian wilayah perairan selat tersebut. Secara terpisah, laporan industri di AS menunjukkan persediaan minyak mentah nasional mengalami penurunan tipis termasuk di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author