Pasar SUN Menguat Imbas Ekspektasi Kebijakan Dovish Federal Reserve
Aksi beli melanda hampir seluruh tenor pada pasar Surat Utang Negara (SUN) dalam sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) akibat sentimen positif dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih dovish.
Pergerakan positif ini terpantau dari penurunan yield atau imbal hasil, yang dilansir dari Bloombergtechnoz, mencatatkan penurunan paling tajam pada tenor 18 tahun sebesar 11 bps ke level 7,29% dan tenor 1 tahun sbesar 10,7 bps ke level 7,22%. Sementara itu, imbal hasil untuk tenor 2 tahun mengalami penurunan sebesar 1,6 bps ke level 7,18%, diikuti oleh tenor 3 tahun yang merosot hingga 1,5 bps.
Penyusutan imbal hasil pada instrumen jangka pendek tersebut mengindikasikan tingginya permintaan dari para investor, sejalan dengan proyeksi bahwa tingkat suku bunga domestik telah mendekati titik puncaknya pasca-siklus pengetatan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Namun, dinamika pada tenor menengah bergerak variatif dengan kenaikan yield pada tenor 5 tahun sebesar 2,2 bps ke level 7,11% dan tenor acuan 10 tahun naik 3,5 bps ke level 7,16%, mencerminkan permintaan premi risiko yang lebih tinggi dari investor walau tekanannya terbatas.
Penguatan di pasar keuangan Asia ini dipicu oleh pernyataan Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar mengenai arah kebijakan komunikasi bank sentral Amerika Serikat ke depan.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memproyeksikan bahwa pergerakan tingkat imbal hasil untuk SUN dengan jangka waktu 10 tahun memiliki potensi untuk bergerak stabil pada kisaran antara 7,1% sampai dengan 7,15%.
Kondisi kurva imbal hasil secara keseluruhan pada hari ini terpantau mendatar dengan rentang pergerakan yang sangat tipis di kisaran 7,11% hingga 7,32% di seluruh lini tenor. Di tengah optimisme penurunan tekanan suku bunga jangka pendek, pasar tetap memperlihatkan sikap waspada dari pelaku pasar terhadap prospek fiskal, inflasi, serta dinamika pasar global.
Faktor lain yang membayangi pasar adalah laporan dari Fitch Ratings pada pekan lalu yang mengingatkan potensi penurunan peringkat utang Indonesia apabila cadangan devisa terus tergerus. Lembaga tersebut memproyeksikan cadangan devisa Indonesia dapat menyusut hingga menyentuh angka 4,9 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri pada akhir tahun 2026 akibat defisit neraca dagang.
Helmi Arman, Ekonom Citi, memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan akan kembali menyempit hingga berada di kisaran 1% dari Produk Domestik Buto (PDB) pada kuartal III-2026. Menurutnya, perbaikan kondisi ekonomi ini akan terus berlanjut hingga kuartal IV-2026 dengan tingkat defisit di bawah 1% yang disokong oleh turunnya harga minyak mentah dunia, peningkatan output sektor pertambangan, dan perlambatan aktivitas impor.